Selasa, 21 Mei 2024
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

Pancagatra Sekolah Al Qur’an Amirul Mukminin

Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si

| 15 April 2024

| 18:44 WIB

Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si merupakan Founder SD Al-Quran Amirul Mukminin. (Foto: Dok. FKIP Untirta)

PENDIDIKAN secara umum disiapkan untuk membimbing individu menjadi warga negara yang baik, demokratis, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsanya.

Lebih dari itu, sekolah amirul mukminin dirancang untuk menyiapkan kader pemimpin umat yang siap menjadi pelopor pembangunan, sebagai khalifatullah di bumi. Untuk itu, dtetapkan lima pilar pendidikan yang disebut pancagatra, dengan uraian berikut.

Pertama, sholat berjamaah. Pembeda seorang muslim dan bukan muslim adalah sholat. Santri dibiasakan disiplin melaksanakan sholat berjamaah secara baik dan benar sesuai teladan Nabi Muhammad Saw.

Mulai sholat fardhu yang lima waktu, sholat dhuha, sholat tahajud dan witir. Sholat berjamaah dilaksanakan sebagai praktek nyata bertauhid. Iman dibuktikan dengan ketaatan menyembah dan berdoa penuh harap hanya kepada Allah.

Kedua, tafaqquh fid din. Belajar agama yang fundamental dimulai dengan literasi Al Qur’an. Santri belajar membaca, menulis, menghafal, dan memahami isi kandungan Al Qur’an. Mulai dari yang sederhana (rutin membca Al Quran satu juz setiap hari sesui penanggalan hijriyah) hingga tafsir yang mendalam (khususnya tafsir surat Al Fatihah, surat Al Baqarah, dan ayat-ayat pilihan yang disusun secara tematik). Tafaqquh fid din sebagai jalan jihad intelektual berusaha memahami esensi Al Qur’an secara mendalam dengan tiga pendekatan, yakni bayani (bil ma’tsur-normatif), irfani (bil ra’yi-filosofis), dan burhani (bil ‘ilmi-saintifik).

Pendekatan bayani memahami ayat-ayat Al-Quran dengan keterangan hadits mengantarkan kepada aqidah dan ibadah yang sahih sesuai tuntunan Rasulullah. Pendekatan irfani memahami ayat-ayat Al-Quran dengan filsafat sejarah mengantarkan pada kebijaksanaan dalam menata sistem sosial kemasyarakatan sesuai asas maslahah.

Sedangkan pendekatan burhani dalam memahami ayat-ayat Allah tentang semesta mengantarkan kepada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi baja yang dibutuhkan untuk memimpin dunia.

Ketiga, gerakan sedekah. Dasar gerakan sedekah adalah rela berorban untuk pencapaian visi keilmuan dan misi kekhalifahan di bumi. Visi keilmuan yang menjadi inti pendidikan bermutu membutuhkan biaya. Mulai biaya personal, operasional, dan investasi.

Inilah wujud nyata dari jihad dengan harta. Biaya personal, seperti seragam sekolah dan makan santri ditanggung oleh masing-masing. Sedangkan belanja investasi dan operasional ditanggung bersama melalui gerakan wakaf, zakat, Infak, dan sedekah harian.

Editor :Rizal Fauzi

Bagikan Artikel

Scroll to Top