Cerita Direktur Mustika Estate, Dari Berjualan Es Lilin Hingga Sukses Menjadi Pengembang Properti

| Jumat, 24 September 2021

| 17:56 WIB

“Pelajaran yang bisa saya ambil adalah ketika seseorang memiliki usaha dengan cabang banyak jangan sampai loss control, jangan semuanya dipasrahkan kepada karyawan. Sebagai pemilik tetap harus mengecek terutama keuangannya,” kata Wawan.

Setelah bangkrut, Wawan kembali berjualan sepatu bersama ayahnya karena Ia tidak memiliki modal lagi.

Sebagai sampingan, Wawan juga mengurus ayam bangkok milik Wali Kota Serang pada saat itu.

Karena sempat berhubungan dengan Wali Kota, Wawan kemudian kenal dengan adik wali kota tersebut yang bekerja sebagai manajer di Grand Krakatau Hotel.

Wawan kemudian diajak oleh adik wali kota tersebut untuk bekerja di Grand Krakatau Hotel sebagai teknisi.

Wawan hanya bertahan selama delapan bulan bekerja sebagai teknisi karena merasa tidak cocok dengan lingkungan kerjanya.

Awal Mula Terjun di Dunia Properti

Setelah keluar dari pekerjaanya menjadi teknisi di Grand Krakatau Hotel, Wawan kemudian bekerja di Mandiri Tunas Finance (MTF) berkat informasi dari adiknya.

Di MTF Wawan bertugas untuk menarik mobil yang pemiliknya menunggak pembayaran.

“Misalnya ada yang nunggak pembayaran selama enam bulan itu SK (Surat Keputusan)-nya dikasih ke saya. Kemudian saya cari mobilnya, kalau mau diselesaikan ya diselesaikan, tapi kalau tidak saya akan menarik mobilnya,” ujar Wawan.

Berawal dari bekerja di leasing ini Wawan bertemu dengan broker tanah yang kemudian menjadi cikal bakal dirinya berkecimpung pada bisnis properti.

“Orang leasing ini kebanyakan ngumpulnya di stadion Kota Sersng dan jarang di kantor. Di stadion tersebutlah saya bisa kenal dengan calo-calo tanah. Dari situ saya belajar menjual tanah sambil bekerja di MTF,” kata Wawan.

Para broker tanah yang Wawan temui masih menggunakan teknik penjualan dari mulut ke mulut dan tidak menggunakan teknologi.

Wawan melihat hal tersebut sebagai peluang. Berbeda dengan para seniornya, Wawan menjual tanah dengan memanfaatkan marketplace yang bisa menjangkau orang di luar wilayah Banten.

Meskipun banyak orang yang tertarik dengan tanah yang Wawan tawarkan, tetapi hal tersebut tidak menjamin terjadinya kesepakatan antara Wawan dan calon pembeli.

Wawan mengaku dirinya seringkali gagal menjual tanah meskipun sudah melalui proses tawar-menawar dan survey lokasi yang cukup panjang.

“Karena terlalu sering gagal sampai tidak terhitung berapa kali saya gagal menjual tanah. Tetapi saya tetap sabar dan dijalani saja,” ujar Wawan.

Wawan menjadi broker tanah mulai dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2019. Selama menjadi broker tanah, total ada 12 titik tanah di Kota Serang yang sudah Wawan bebaskan.

Pada tahun 2019 tersebut Wawan sudah berhasil membangun bisnis properti pertamanya yang bernama Drangong Residence.

Wawan mulai terfikir untuk membangun bisnis properti Drangong Residance setelah Ia menjadi broker tanah dan bertemu dengan kepala cabang suatu bank.

Editor :Rizal Fauzi

Bagikan Artikel

Terpopuler_______

Scroll to Top