Cerita Direktur Mustika Estate, Dari Berjualan Es Lilin Hingga Sukses Menjadi Pengembang Properti

| Jumat, 24 September 2021

| 17:56 WIB

“Dulu itu harga barunya Rp250 ribu waktu tahun 1994. Ketika Bapak saya selesai mencuci sepatu Adidas Samba tersebut saya diam-diam mengambil dan memakainya ke sekolah. Setelah sampai di sekolah teman-teman pada melihat sepatu saya karena memang populer. Dari situ ya saya jual saja seharga Rp170 ribu” kata Wawan.

Wawan mengetahui bahwa ayahnya membeli sepatu Adidas Samba tersebut seharga Rp50 ribu, jadi dia bisa menentukan harga jual sepatu tersrbut.

Mengetahui sepatu unggulannya tidak ada, pada awalnya ayah Wawan sangat marah. Tetapi setelah mengetahui bahwa Wawan berhasil menjual sepatu tersebut, ayah Wawan menjadi senang.

Wawan menyerahkan uang hasil menjual sepatu kepada ayahnya sebesar Rp70 ribu. Hari-hari berikutnya jika ayah Wawan memperoleh sepatu bagus lagi justru Wawan diminta untuk memakainya ke sekolah supaya bisa menjual ke teman-teman sekolahnya.

Berganti-Ganti Profesi

Ketika pertama kali menikah pada tahun 2001, Wawan Gunawan berprofesi sebagai pedagang sepatu. Ia membranikan diri untuk berjualan sendiri dan tidak lagi ikut dengan ayahnya.

Ketika siang hari Wawan berjualan di gang rendah di dekat pasar lama Serang. Sedangkan malam harinya wawan pindah berjualan ke pasar lama.

“Ketika hujan saya tidak bisa berjualan. Saya jualannya di trotoar. Nunggu toko tutup baru saya bisa berjualan di trotoarnya. Kalo hujan ya tidak dapat uang,” ujar Wawan.

Dari hasil berjualan sepatu tersebut Wawan mendapat keuntungan per harinya rata-rata sebesar Rp20 ribu, dalam sebulan pendapatan Wawan kisaran Rp600 ribu.

Setelah dua tahun berdagang sepatu, Wawan kemudia beralih profesi dengan bekerja di konter handphone milik kakak sepupunya.

Wawan tertarik untuk bekerja di konter tersebut karena memiliki sistem gaji. Selain itu, jika berhasil menjual handphone kepada pembeli, Wawan mendapat komisi tambahan dari kakak sepupunya.

Dalam sebulan Wawan mendapat gaji sebesar Rp450 ribu dari pemilik konter. Untuk pendapatan tambahannya berasal dari hasil penjualan hanphone.

“Sitem pembagiannya 60:40. Jadi pemilik konter 60, saya 40. Kalo dapet untungnya Rp50 ribu berarti bagian saya Rp20 ribu dan bos dapet Rp30 ribu,” kata Wawan.

Berbekal pengalamannya bekerja di konter hanphone, Wawan membranikan diri untuk membuka konter sendiri.

Bermodalkan uang Rp10 juta dari pinjaman bank dengan menjaminkan Akta Jual Beli (AJB) Tanah milik orangtuanya, Wawan menyewa kios untuk membuka konter handphone sendiri.

“Berawal dari situ saya bisa membuka tiga cabang. Saya bisa membeli motor sendiri dan saya punya karyawan,” kata Wawan.

Setelah tiga tahun Wawan berkecimpung pada bisnis konter handphone, dirinya harus merasakan kembali pahitnya kebangkrutan.

Wawan mengatakan, jatuhnya bisnis konter handphone miliknya karena kurangnya kontrol terhadap karyawan.

Editor :Rizal Fauzi

Bagikan Artikel

Terpopuler_______

Scroll to Top