Warga Sepang Sarankan Pemkot Serang Gunakan Lalat Hitam Untuk Urai Sampah

20
Salah satu pegawai TPS3R di Komplek Griya Sukses, Jalan Raya Sepang Ciracas, Kota Serang, memanen lalat manggot, Minggu (4/4). (FIKRAM / BANTENINSIGHT.CO.ID)

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS3R) Sepang, di Komplek Griya Sukses, Jalan Raya Sepang Ciracas, Kota Serang menyarankan Pemerintah Kota Serang menggunakan ulat manggot atau medium Black Soldier Fly (BSF) dalam pengelolaan sampah organik.

Sebab, penggunaan lalat hitam dan ulat tersebut dapat mengurangi kadar sampah di Kota Serang.

“Kami menantang Pemerintah Kota, kapan kami dilibatkan untuk membersihkan sampah kota,” kata Pengelolah sampah TPS3R Sepang Budi saat ditemui wartawan, Minggu (4/4).

Budi menjelaskan, dengan memanfaatkan manggot akan mengurai sampah organik yang ada di Kota Serang. Sehingga, jika setiap Kecamatan yang ada di Kota Serang mengelolah sampah menggunakan medium manggot, maka tidak aka ada lagi sampah organik yang dikirm ke TPSA Cilowong.

“Sebab sampah yang diurai menggunakan medium manggot selain tidak menimbukan bau busuk, juga dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak seperti ikan lele, ayam, bebek dan buruk kicau,” katanya.

Terlebih lanjut Budi penggunaan 1 kilogram (Kg) manggot dapat mengkonsumsi 10 Kg sampah organik perharinya.

“Di bak ini tuh ada 25 kilo belatung (Manggot), berarti butuh makan 300 Kg perhari dikali bak yang ada (18 bak),” katanya .

Sementara untuk sampah yang sudah dikonsumsi oleh manggot dapat dijadikan sebai pupuk kompos.

Tak hanya itu tambah Budi, pemanfaatan manggot dalam mengurai sampah juga dinilai bernilai ekonomis. Sebab, dalam 10 ton sampah organik sama dengan 100 Kg manggot dengan harga Rp10 ribu perkilonya.

“Sementara untuk telur manggot dihargai Rp13 ribu pergramnya. Serta untuk komposnya dengan berat 5 Kg dihargai Rp15 ribu,” katanya.

Menurutnya hingga saat ini belum ada pemerintah yang memanfaatkan medium manggot untuk dijadikan ladang bisnis. Adapun ekspor belatung yang ada di Bogor tidak dikelolah pihak swasta dengan pendapatan Rp1,2 Miliar perbulannya.

“Tinggal Serang mau tidak mengikuti orang yang maju,” ujarnya. (Fikram)