Warga Miskin di Banten Capai 857,69 Ribu Orang

181
PRIHATIN: Salah satu warga Desa Wanayasa, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang masih memakai aliran sungai untuk mencuci pakaian. (AHMAD FIKRAM / BANTENINSIGHT.CO.ID)

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah masyarakat miskin di Provinsi Banten pada September 2020 bertambah menjadi 857,69 ribu orang atau naik menjadi 6,63 persen.

Jika dibandingkan dengan bulan Maret tahun 2020, penduduk miskin di Banten tercatat ada 5,92 persen atau sebanyak 775,99 ribu orang.

Kepala BPS Provinsi Banten Adhi Wiriana mengatakan, peningkatan warga miskin di Banten pada September 2020 ini menjadi yang terparah sejak tahun 2007 sebanyak 816,7 ribu orang.

“Patut diduga ini (peningkatan warga miskin) karena dampak pandemi Covid-19,” kata Adhi dalam siaran rilis berita statistik melalui chanel YouTube, Senin (15/2).

Selain faktor pandemi Adhi menjelaskan, penyebab utama bertambahnya jumlah warga miskin di Banten karena angka pengangguran yang tinggi dan pelaku sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) banyak yang gulung tikar.

“Kemungkinan puncaknya itu terjadi pada bulan Juni dan Juli 2020 karena ada pembatasan sosial bersakala besar (PSBB) dan aktivitas perdagangan mengalami penuruanan,” terang Adhi.

Ia mengatakan, peningkatan warga miskin di Banten paling banyak dialami oleh masyarakat perkotaan yakni sebanyak 540,15 ribu orang dan pedesaan tercatat ada 317,49 ribu.

“Karena wilayah Banten didominasi oleh sektor industri, yang lebih cendrung kepada industri yang berada di Tangerang Raya termasuk di Cilegon dan Kota Serang. Sementara masyarakat desa masih bisa mengandalkan (pendapatan-red) dari sektor pertanian,” katanya.

Masih kata Adhi, batas garis kemiskinan pada bulan September 2020 juga mengalami peningkatan dari Rp508.091 per kapita per bulan pada Maret 2020, menjadi Rp515.110 per kapita
per bulan pada bulan September 2020.

“Jadi kalau di rumah ada 5 orang anggota keluarga, pendapatan yang harus dimiliki sebesar Rp2,57 juta perbulan supaya tidak masuk dalam kategori penduduk miskin,” imbuh Adhi.

Adhi menambahkan, sebagian besar masyarakat dibperkotaan menggunakan pendapatannya untuk membeli kebutuhan makanan berupa rokok kretek filter dan beras.

“Penduduk miskin kota menggunakan 18,13 persen pendapatanya untuk membeli rokok, dan prioritas kedua yaitu untuk membeli beras sebesar 12,63 persen,” papar Adhi.

Sementara itu, komoditi non makanan yang memberi sumbangan terbesar untuk garis kemiskinan baik di perkotaan maupun di perdesaan diantaranya biaya perumahan (10,38 persen), bensin (4,22 persen), listrik (2,34 persen),pendidikan (1,69 persen) dan perlengkapan mandi (0,69 persen).

“Untuk di perdesaan lima komoditi non makanan penyumbang garis kemiskinan adalah biaya perumahan (11,09 persen), bensin (2,17 perse ), listrik (1,10 persen), perlengkapan mandi (0,98 persen) dan biaya pendidikan sebesar 0,95 persen,” pungkas Adhi. (raden/ismet)