Warga Cilegon Manfaatkan Pipa Bekas Jadi Lampu Hias

56
Ketua Kelompok Sembilan Toni Firmansyah memamerkan lampu hias hasil unit dari pipa bekas tanaman hidroponik di kediamannya, Rabu (7/10/) (Foto:Maulana Abdul Haq/Ekbisbanten.com)

CILEGON, EKBISBANTEN.COM – Selama pandemi Covid-19 sejumlah warga Komplek Taman Raya Cilegon, Kelurahan Gedongdalem, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon punya hobi baru, yaitu membuat kursi dari drum hingga lampu hias unik dari paralon bekas.
Ide kreatif tersebut digagas oleh Warga yang yang tergabung dalam Kelompok Semangat Bina Lingkungan (Sembilan). Kelompok Sembilan yang diketuai oleh Toni Firmansyah memilih tetap ingin produktif meski terdampak pandemi dan PPKM.

“Awalnya dari kumpul-kumpul waktu masa pandemi tidak ada kegiatan. Kita ngobrol tercetuslah ide untuk untuk membuat kreatifitas terutama dari barang bekas,” kata Toni kepada Ekbisbanten.com, Kamis (7/10/2021).

Kelompok Sembilan yang terbentuk sejak September 2020 lalu tersebut, dikatakan Toni, mampu memproduksi lima unit lampu hias yang pengerjaannya dilakukan saat waktu luang atau libur bekerja.

“Karena kita juga bekerja, tapi ya karena yang kerja juga banyak yang kena shift, jadi ya banyak kumpul, waktu itulah yang kita manfaatkan,” ujarnya.

Toni menuturkan, lampu hias berbahan dasar barang bekasnya tersebut dipasarkan senilai Rp40-200 ribu per unit. Kelompok Sembilan juga memproduksi kursi yang terbuat dari drum bekas.

“Kalau untuk penjualannya sih belum stabil. Masih di sekitaran kita dan dari orderan,” tuturnya.

Toni mengaku, kelompoknya terdorong menjadikan barang bekas menjadi barang yang bernilai ekonomis tersebut karena melihat Kota Cilegon memiliki limbah yang melimpah.

“Daripada ditimbang, buang keluar harganya jadi harga rongsokan lebih baik dimanfaatkan agar bernilai ekonomis dan menjadi pemasukan tambahan untuk warga. Dari sampah jadi petuah,” ucapnya.

Demi barang olahannya dapat dipasarkan secara luas, Toni bersama warga lainnya tengah menempuh proses legalitas dari pemerintah agar produknya menjadi produk UMKM.

“Kita lagi proses legalitas agar ketika produk kita keluar itu bisa lebih diterima dan ketika kita sodorkan ke pemerintah, pemerintah juga gampang memasarkannya,” ujarnya.

Selain memanfaatkan barang bekas, menurut Toni Kelompok Sembilan juga turut berkolaborasi dengan melakukan pendampingan Kelompok Wanita Tani (KWT) Kalimaya menanam sejumlah tanaman sayuran dengan metode hidroponik dan di lahan fasilitas umum yang telah tersedia di Kompleknya serta lahan milik warga yang mempersilakan untuk dikelola KWT.

“Hasil panennya sementara untuk konsumsi dan untuk mempertahankan konsep ketahanan pangan. Selebihnya untuk pembelian bibit dan pupuk,” terangnya.

Atas aksinya tersebut, KWT Kalimaya diganjar penghargaan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon menjadi KWT percontohan area perkotaan.

“Alhamdulillah karena keseriusan kita, kita juga hobi, kita buktikan dulu dengan dana swadaya akhirnya pemerintah melirik dan terkucurkanlah dana hibah APBN dari Kementerian Pertanian untuk pengembangan KWT,” ucapnya.

“Mudah-mudahan menjadi inspirasi untuk kota kota lain bahwa keterbatasan lahan tidak menjadi halangan untuk terus bercocok tanam dengan konsep urban farming,” tutupnya.**