Targetkan 1.000 Ekor Sapi Qurban, ACT Disupport Penuh MUI Banten

12
Dok/ Ekbisbanten.com/Raden

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Aksi Cepat Tanggap (ACT) membidik sebanyak 1.000 ekor sapi untuk pelaksanaan hari Raya Idul Adha 1442 Hijriah atau bertepat pada 20 Juli 2021 mendatang.

Hal tersebut, mendapat respons positif dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten untuk mendukung seluruh program ACT yang turut membantu masyarakat saat pandemi Covid-19.

Ketua MUI Banten AM Romli mengungkapkan, dukungan penuh terhadap ACT dalam upaya membantu masyarakat yang mengalami masalah ekonomi akibat pandemi Covid-19.

“Kalau untuk masalah lapangam biar ACT yang turun tangan, karena kita mengakui kekuatan MUI sudah susah bahkan sudah asa sempoyongan, dan mendukung ACT dari belakang,” kata Romli dalam agenda konferensi pers ACT dengan tema “Berqurban Tanpa Batas” di gedung MUI Provinsi Banten, Kamis (15/7).

Selain dukungan terhadap qurban, Romli juga mendukung program gerakan operasi pangan gratis, mengingat banyak masyarakat Banten yang terpapar Covid-19.

“Semoga program gerakan pangan gratis ini bisa membersamai masyarakat yang sedang diuji pandemi,” imbuhnya.

Sementara itu, Head of Region ACT Banten Ais Komarudin mengatakan, untuk teknis pembagian hewan qurban, nantinya akan dilakukan kesetiap cabang, dan saat ini ACT Banten memiliki 5 cabang yang siap menjalankan program tersebut.

“Nantinya 85 persen daging qurban akan dibagikan di dalam negeri dan 15 persen akan disalurlan ke Palestina,” ujarnya.

Sementara itu, untuk operasi pangan gratis ACT sudah menyiapkan 200 ton beras wakaf, air minum wakaf, dan hygine kit untuk disalurkan kepada masyarakat Banten.

“ACT akan bekerjasama dengan aparat kecamatan setempat untuk pendataan penerima bantuan ini,” ujarnya.

Masih kata Ais, ACT juga mendapat dukungan untuk program medical care line, dimana masyarakat bisa melakukan konsultasi kesehata secara gratis melalui call center 02129407165.

“Kami berharap seluruh masyarakat dapat bersama-sama membatu saudara kita yang sedang diuji kondisi kesehatan dan ekonominya saat pandemi, dan kami butuh masyarakat lain untuk mensukseskan gerakan ini,” tutup Ais. (Raden)