Setelah 30 Tahun Akhirnya Santri Ponpes Nurul Ikhlas Punya Sarana Air Bersih

12
Foto/ Laz Harfa

SERANG, EKBISBANTEN.COM –Selama 30 tahun, para santri yang berada di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Banten, tidak memiliki Sarana Air Bersih (SAB) dan MCK yang layak hingga harus mandi, mencuci, dan BAB di Sungai setiap harinya.

Pada Senin (29/3), LAZ Harapan Dhuafa meresmikan fasilitas SAB dan MCK untuk para santri. Pembangunan SAB dan MCK ini merupakan hasil gotong royong sedekah dari donatur semuanya.

Peresmian tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Kelurahan Sayar Jaenudin, Koordinator Digital Fundraising LAZ Harapan Dhuafa Irfan Gian Pratama dan Pimpinan Ponpes Nurul Ikhlas KH. Salimi.

Irfan mengatakan, LAZ Harapan Dhuafa berfokus untuk memberikan air bersih dan sanitasi yang layak dan merata untuk semua orang, tujuan ini sejalan dengan tujuan keenam pada pembangunan berkelanjutan (SDGs) tahun 2030.

“Tak bisa kita bayangkan 30 tahun para santri ini masih BAB Sembarangan dan kesulitan air bersih. Tentu semangat belajar mereka harus terus kita jaga dengan memberikan akses yang mudah untuk mendapatkan air bersih dan sanitasi yang layak. Pembangunan SAB dan MCK ini merupakan hasil gotong royong sedekah dari para donatur melalui LAZ Harapan Dhuafa,” ujar Irfan.

Sementara itu pimpinan Pondok Pesantren Nurul Ikhlas menyebut, Air ini merupakan kebutuhan utama untuk para santri.

“Semoga bantuan ini menjadi amal jariyah untuk para donatur, kami akan berupaya menjaganya sebaik mungkin,” kata KH Salimi.

Sedangkan Taufiq, salah satu santri menyampaikan sebelumnya dirinya merasa kesusahan air. Akan tetapi dengan adanya SAB dan MCK kini ia dan para santri mengaku bisa lebih serius dalam belajar karena tidak lagi membutuhkan waktu lama berjalan kaki atau mengantri untuk sekedar buang hajat atau mandi di sungai.

“Sekarang lebih mudah, gak lagi ngantri, ya Insya Allah makin semangat ngajinya. Kan sudah lebih dekat”, kata Taufiq

Kondisi kurangnya SAB dan MCK karena pesantren tersebut tidak memungut biaya kepada para santri, santri yang belajar merupakan anak-anak dhuafa yang dibina ilmu agamanya. Menjadikan pesantren tersebut belum mampu secara mandiri membangun sarana pendukung terutama SAB dan MCK. (*/Raden)