Sasar Pelaku UMKM, BI Sosialisasi QRIS Sampai ke Baduy

513
PERMUDAH TRANSAKSI : Kepala Divisi Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah dan Layanan dan Administrasi BI Banten Erry P. Suryanto bersama pelaku UMKM di Kawasan Wisata Budaya Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak yang sudah menggunakan QRIS, Selasa (10/3). (ISTIMEWA)

LEBAK, EKBISBANTEN.COM – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Banten terus mendorong perluasan penggunaan Quick Response Indonesian Standard (QRIS) hingga daerah pedalaman. Untuk itu, BI menyasar para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kawasan Wisata Budaya Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak untuk menggunakan QR Code.

Perlu diketahui bahwa QRIS merupakan standar QR Code untuk pembayaran melalui aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik, atau mobile banking yang telah diperkenalkan sejak 17 Agustus 2019 lalu.

Kepala Divisi Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah dan Layanan dan Administrasi BI Banten Erry P. Suryanto mengatakan, kegiatan sosialisasi dilakukan dalam rangka memperluas penetrasi penggunaan QRIS oleh masyarakat Banten khususnya di daerah-daerah terdalam seperti kawasan wisata adat suku Baduy, Lebak.

“Baduy ini kan ikon Provisni Banten. Salah satu yang kita sasar yakni keunikan lokalnya, karena disini potensi wisata bagus, sudah dikenal wisatawan lokal hingga mancanegara, dan dengan QRIS ini kami harpakan bisa mendorong perekonomian disini (wargaBaduy),” ujar Erry Selasa (10/3).

Sosialisasi dengan konsep ngobrol bareng santai (Ngobras) ini membahas implementasi serta pentingnya migrasi ke QRIS kepada 50 UMKM Kawasan Wisata Baduy seperti pengrajin, pedagang sembako, rumah makan, dan lain-lain.

“Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) merupakan metode pembayaran terbaru yang diluncurkan oleh Bank Indonesia untuk memperluas alternatif pembayaran non tunai,” katanya.

Erry menjelaskan, QRIS memudahkan proses pembayaran bagi pedagang ataupun pembeli karena terintegrasi dengan e-wallet seperti Gopay, Ovo, Dana, ataupun Shopee Pay.

“Meskipun relatif baru, hingga 6 Maret 2020, merchant yang sudah terdaftar dan memasang QRIS mencapai 2,7 juta diseluruh provinsi di Indonesia,” katanya.

Sementara untuk di Provinsi Banten kata Erry, pedagang atau merchant yang sudah menggunakan QRIS sebanyak 162 ribu merchant. Dengan jumlah tersebut, Banten menduduki provinsi terbanyak kelima se Indonesia setelah Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Khusus di Kabupaten Lebak lanjut Erry, sebanyak 2.661 pedagang sudah memanfaatkan QRIS. “Kita harapkan semua pelaku UMKM sekitar 100 bisa menggunakan QRIS, tapi untuk saat ini setengahnya bisa menggunakan saja sudah bagus. Karena butuh waktu untuk meyakinkan mereka,” kata Erry.

“Potensi Provinsi Banten tersebut tentu perlu kita respon secara positif dalam rangka perluasan ekonomi digital. Salah satu keunggulan QRIS bagi pengguna e-wallet adalah pedagang atau merchant discount rate (MDR) yang lebih rendah dari 1 persen menjadi 0,7 persen,” pungkasnya. (adv)