Sambil Nobar Film Saidjah dan Adinda, UPG – BI Banten Ajak Mahasiswa Kenali Uang Rupiah

53
Foto: Istimewa

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Universitas Primagraha (UPG) berkolaborasi dengan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provisni Banten dan Kremov Picture sukes menggelar bedah film “Saidjah dan Adinda di Aula Kampus UPG Kota Serang, Rabu (23/06).

Bedah film adaptasi dari novel Max Havelaar tersebut digelar sebagai salah satu rangkaian dies natalis UPG yang pertama sekaligus mengenalkan peran dan fungsi Bank Indonesia serta cara mencintai mata uang rupiah kepada mahasiswa.

Acara bedah film tersebut dihadiri langsung oleh Darwin Mahesa sebagai penulis naskah film, Civitas Akademi UPG, dan para mahasiswa dari seluruh fakultas dengan jumlah yang terbatas, dan tetap mematuhi potokol kesehatan (prokes).

Ketua Panitia Dies Natalis UPG Babay Suhendri, melalui  bedah film itu ia mengajak para mahasiswa terus berpikir kreatif dan inovatif dalam menjawab tantangan di masa depan.

“Untuk itu, mahasiswa harus memiliki kemampuan bahasa asing, berwawasan global, mampu berkolaborasi dengan maksimal, serta berpikir kreatif dan inovatif. Seperti halnya yang dilakukan oleh Darwin Mahesa sebagai penulis film dan juga Ceo Kremov Picture,”ujarnya.

Sebelum kegiatan inti (bedah film) dimulai, BI Banten melakukan sosialisasi mengenai peran dan fungsi Bank Indonesia dan cara mencintai mata uang rupiah. Setelah sosialisasi Bank Indonesia Provinsi Banten dilanjut dengan menonton film berjudul “Saidjah Adinda” yang langsung dibedah oleh Darwin Mahesa sebagai penulis naskah film tersebut sekaligus Ceo Kremov Picture.

Salah satu mahasiswi Fakultas Hukum UPG, Ayu Lestari mengatakan film Saidjah dan Adinda sangat kompleks dan gemuk akan pengetahuan sejarah Lebak pada masa kolonial, dimana persoalan kejahatan oleh pribumi (pemerintah) lebih kejam dibandingkan kolonial Belanda.

“Saya sebagai salah satu warga Lebak, setelah menonton film Saidjah dan Adinda, saya menjadi tahu sejarah (Multatuli) yang sebenarnya. Mulai dari kisah romantisnya, hingga kisah kekejaman dari Pemerintah Lebak pada saat itu,” katanya.

Sementara itu Silvia dari Prodi PGSD FKIP, lebih tertarik terhadap perjalanan dari Darwin Mahesa dalam menggeluti hobi film bersama Kremov Picture. “Selain saya senang dan menikmati alur cerita dari film Saidjah dan Adinda. Saya juga termotivasi oleh keuletan dari Kakak Darwin Mahesa yang jatuh bangun menggeluti hobinya, tetapi tetap semangat membuat film bersama Kremov Picture,” ujarnya.

Di akhir kegiatan, Darwin Mahesa memberikan closing statement sebagai motivasi bagi para mahasiswa. “Yang terpenting dalam menggeluti hobi, usaha dan lainnya yaitu dengan konsisten dan tidak mudah putus asa. Kalau sudah konsisten, pasti hasilnya juga tidak akan mengecewakan,” pungkasnya. (*/ismet)