Rantai Pasok Terlalu Panjang, Petani di Banten Selatan Minim Keuntungan

18
PANEN RAYA: Petani padi di Kampung Sidungkul, Desa Serdang, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang mengaku melakukan panen raya lebih awal. Tujuannya untuk mengurangi tingkat kerugian harga jual gabah kepada para pengepul atau pemilik gilingan, Sabtu (20/3). (FOTO: ISMATULLAH / EKBISBANTEN.COM)

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Pengamat Ekonomi Banten Hady Sutjipto menilai, rantai pasok sektor pertanian di wilayah Banten Selatan masih terlalu panjang.

Akibatnya, para petani yang berada di Kabupaten Lebak dan Pandeglang tidak mendapatkan keuntungan yang maksimal karena harus mengikuti pola distibusi tersebut.

“Karena rantai pasok terlalu panjang, petani tidak mendapatkan nilai (keuntungan) yang tinggi (dari penjualan hasil tani),” kata Hady dalam agenda Banten Economic Forum Seri 1 2021 yang digelar Bank Indonesia Banten melalui aplikasi zoom, Selasa (23/3).

Hady mengatakan, berdasarkan pengalaman penelitianya di daerah Jawa Barat, ada tujuh titik rantai pasok yang harus dilalui, mulai dari petani ke pengumpul kemudian ke bandar, kemudian bandar besar antar pasar induk turun ke grosir kemudian ke pengecer baru ke konsumen.

Hadi melihat permasalahan utama di rantai pasok ini harus segera dibenahi oleh pemerintah. Pasalnya hal tersebut akan berdampak terhadap nilai tukar petani dan inflasi (komoditas pangan).

“Tidak bisa dipungkiri sektor pertanian ini juga mempunyai kontribusi yang besar terhadap Prouk Domestik Bruto (PDB) dan punya daya ungkit untuk mendongkrak perekonomian Banten,” jelasnya.

Selain itu kata Hady, di masa pandemi ini menjadi kesempatan untuk memotong rantai pasok tersebut dengan media penjualan online yang perlu pendampingan dari dinas terkait, kemudian support perguruan tinggi, serta dukungan media dalam pemasarannya.

“Namun masalah klasik di tingkat petani, sebagian terjebak atau terlilit hutang dalam pengelolaan pertaniannya sehingga harus dijual kepada orang yang memberi hutang tersebut” ujar Dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa tersebut.

Senada dengan Hady, Statistisi Ahli Muda Kordinator Fungsi dan Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pandeglang Richo Hendrix Sanggoro menyebut, pertanian wilayah Banten Selatan khususnya Pandeglang seharusnya sudah bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan seperti bawang dan cabai.

“Selain masalah irigasi, kondisi rantai pasok dipara petani menjadi masalah yang harus dibenahi,” tutup Richo. (Raden)