Produksi Ikan Capai 23,86 Juta Ton, KKP Perkuat Sistem Logistik Ikan Nasional

44

EKBISBANTEN.COM – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KPP) terus berupaya untuk meningkatkan Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) guna memperlancar aliran ikan dari sentra produksi ke sentra industri. Terlebih produksi perikanan nasional mencapai 23,86 juta ton pada tahun 2019.

Jumlah tersebut terdiri dari perikanan tangkap sebesar 7,53 juta ton dan perikanan budidaya sebesar 16,33 juta ton, termasuk rumput laut.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Artati Widiarti, memastikan KKP tengah mengembangkan implementasi SLIN untuk membangun sistem manajemen rantai pasokan ikan dan produk perikanan yang terintegrasi, efektif dan efisien. 

Hal ini untuk meningkatkan kapasitas dan stabilisasi sistem produksi perikanan hulu-hilir, pengendalian disparitas harga, serta untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.

“Saya ajakan para pemangku kepentingan terutama para pengusaha jasa logistik untuk sama-sama timbangan sistem logistik perikanan nasional kita,” kata Artati di Jakarta, Jumat (13/11).

Saat membuka diskusi Webinar bertajuk “Peran Jasa Logistik Dalam Mendukung Industri Perikanan Nasional”, Rabu 11 November 2020, Artati mengakui masih banyak tantangan yang diminta dalam implementasi SLIN, salah satunya dalam menyediakan bahan baku industri pengolahan dan kebutuhan pasar. 

Sebanyak 81 persen produksi perikanan terutama produksi perikanan tangkap berada di luar Jawa dan 50 persen Unit Pengolahan Ikan (UPI) berpusat di Jawa. Karenanya, diperlukan sinergitas antar pelaku usaha agar produk pengolahan ikan nasional bisa kompetitif dan berdaya saing dengan negara lain, baik secara harga maupun kualitas.

Untuk melakukan aktivitas logistik, selanjutnya diperlukan infrastuktur yang terdiri dari simpul logistik dan mata rantai logistik yang berfungsi menggerakkan barang dari titik asal ke titik tujuan. Simpul logistik dapat berupa pelaku logistik, dan konsumen, sedangkan link logistik termasuk jaringan distribusi, jaringan informasi, dan jaringan keuangan.

Dikatakannya, melalui program SLIN dari tahun 2016 hingga 2020, Ditjen PDSPKP telah membangun dan melengkapi fasilitas dan prasana penunjang logistik hasil perikanan seperti cold storage, berpendingin, serta pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di Biak dan Mimika. Ia memastikan, kedepan, fasilitas penunjang lainnya akan terus ditambah guna meningkatkan sistem logistik perikanan nasional.

“Mulai mengembangkan tahun ini, KKP sudah mulai mengembangkan penggunaan penyimpanan dingin portabel yang sangat cocok digunakan di wilayah pesisir karena lebih praktis dan mudah dipindah,” sambungnya.

Sementara itu untuk menunjang konektivitas dan pasokan rantai pasokan hasil perikanan dari sentra produksi / pengumpul menuju sentra distribusi / industri / konsumsi yang dibutuhkan peran penyedia jasa logistik yang memiliki multimoda.

Artati berharap, kedepan ada satu perusahaan penyedia jasa logistik yang memiliki layanan angkutan multimoda, sehingga pelaku usaha perikanan ketika akan mengirimkan hasil kelautan dan perikanan tidak harus melakukan kontrak dengan satu sampai lima perusahaaan jasa logistik tetapi cukup dengan satu perusahaan jasa yang dapat terhubung darat, laut , dan udara dengan biaya logistik lebih efektif dan efisien.

Dukungan Penyedia Jasa Logistik
PT Kereta Api mendukung dukungannya untuk melaporkan sistem logistik perikanan. BUMN bidang transportasi ini tidak hanya melayani penumpang tetapi juga sudah merambah ke usaha jasa logistik melalui anak perusahaannya PT. Kereta Api Logistik (Kalog). 

Direktur Utama PT Kalog Hendy Helmi menyebutkan bahwa komoditas perikanan bisa masuk dalam lini bisnis Kalog yang termasuk angkutan multi komoditi serta logistik terminal yang sudah dilengkapi dengan cold storage serta kurir logistik dengan menggunakan boks berpendingin.

“Kalog siap melancarkan distribusi produk perikanan dengan menggunakan jalur kereta yang terhubung masif mulai dari stasiun Merak (Cilegon) hingga stasiun Ketapang (Banyuwangi). Beberapa terminal Kalog berpotensi untuk dijadikan Hub Konsolidasi dan distribusi perikanan di pulau Jawa seperti Cilegon, Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Solo, Cilacap, Surabaya, Malang , Probolinggo, Jember dan Banyuwangi,” terang Hendry.

Lebih lanjut Hendry menerangkan bahwa posisi terminal-terminal Kalog yang berada disepanjang lintas kereta api, dapat dengan mudah diakses moda truk dan moda lainnya. Bahkan, bisnis Kalog juga akan melayani angkutan akhir dengan moda lainnya atau integrasi multimoda.

“Ikan dari wilayah timur diangkut dengan kapal terus ditampung di pelabuhan, diangkut dengan reefer container kereta api dikirim ke Jakarta , dan begitu sampai Jakarta kita kirim dengan moda transportasi lain untuk sampai ke end user,” jelas Hendry.

Senada, HSN Group, perusahaan kontainer pengiriman barang dengan spesialisasi menggunakan berpendingin juga menegaskan komitmennya untuk mendukung distribusi ikan dari wilayah timur ke Jawa. Bahkan HSN saat ini berkonsentrasi mengembangkan bisnisnya di Indonesia Timur dengan membuka cabang ke 40 di Morotai.

“Saat ini HSN sudah menyiapkan lebih dari 2000 kontainer untuk mengantisipasi musim ikan, setelah sebelumnya hanya 600 unit di tahun 2015, “ ujar Budi Sulistyo, Direktur Utama HSN Group.

Sulistyo menyebut HSN Grup telah bekerja sama dengan PT. Kalog untuk distribusi produk perikanan menggunakan Kereta Api Kontainer untuk jalur Surabaya – Jakarta – Surabaya. Adapun ikan-ikan yang diangkut ini berasal dari Indonesia Timur yang sebelumya diangkut menggunakan kapal.
“Perhitungannya lebih murah dan lebih cepat melanjutkan distribusi barang ke Jakarta dengan kereta dibanding menggunakan kapal atau moda transportasi lainnya,” tutupnya. (*/Raden)