PPKM Darurat, Okupansi Hotel di Anyer Jeblok, PHRI Minta Relaksasi Agar Bisa Bertahan

| Sabtu, 24 Juli 2021

| 18:25 WIB

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Ketua Harian Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Serang Dodi Fathurahman berharap pemerintah memberikan relaksasi pajak bagi industri hotel terdampak Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat.

[adrotate group="5"]

Pasalnya, sejak kebijakan pemerintah pusat itu diterapkan dari 3 Juli 2021 hingga sekarang, tingkat hunian kamar hotel di Kawasan Anyer dan Cinangka turun drastis.

“Karena dari awal mulai diberlakukannya kembali PPKM kita langsung drop turunnya. Turunnya ini memang drastis banget, lebih buruk dari pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dulu,” kata Dodi Fathurahman saat ditemui Ekbisbanten.com di Hotel Aston Anyer, Kabupaten Serang, Sabtu (24/7).

Ia mencatat, secara keseluruhan tingkat hunian kamar hotel di Anyer dan Cinangka pada saat PPKM darurat hanya terisi 10 persen. Padahal lanjut Doddy, sebelum PPKM darurat diterapkan, tingkat hunian kamar berada diangka 70 persen.

“Ketika masa PPKM, tingkat month to date occupancy hotel di Anyer dan Cinangka turun menjadi 10 persen dan yang terisi hanya hotel bintang empat saja,” katanya.

Regional General Manager Aston Anyer dan Aston Cilegon ini mengaku, Hotel Aston yang ia kelola pada hari-hari tertentu tingkat huniannya juga ikut jeblok.

“Bisa di hari-hari tertentu ya memang bisa 0 persen,” katanya.

Untuk itu Kepala Bidang Keanggotaan pada Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Pusat berharap, pemerintah memberikan keringanan beban pajak bagi para pelaku industri hotel terdampak PPKM darurat, khususnya hotel yang ada di wilayah Kabupaten Serang.

“Teman-teman di hotel lain juga mengalami hal yang sama. Yang sekarang kita lagi konsen itu gimana caranya dapet bantuan dari pemerintah. Relaksasi ya, mungkin dari segi pajak,” katanya.

Walaupun diakui Doddy, saat ini pemerintah sudah memberikan stimulus berupa keringanan Pajak Penghasilan (PPh). Namun hal itu tidak cukup untuk menutup biaya operasional gaji karyawan dan perawatan hotel.

“Kami mengharapkan perhatian dari pemerintah agar bisnis perhotelan bisa terus survive. Minimal bisa ada pengurangan beban lah,” ucap Pak Dodi.

Pihakny khawatir, jika relaksasi bagi industri hotel tidak diberikan, hotel-hotel kecil dan villa yang akan berguguran makin banyak.

“Saat ini hotel-hotel kecil dan villa sudah banyak yang tutup dan hotel-hotel besar sedang berada dalam kondisi sulit. Tutup beneran banyak,” pungkasnya. (Mg-Fitra)

]]>

Editor :Rizal Fauzi

Bagikan Artikel

Terpopuler_______

Scroll to Top