Petani di Kota Cilegon Keluhkan Sulitnya Pasarkan Hasil Panen Sayur Hidroponik

104
Agus Gunawan Pengelolaan Kinan Hydro Farm di Lingkungan Dermaga Malang, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Rabu (27/10/2021) (Foto: Maulana/Ekbisbanten.com).

CILEGON, EKBISBANTEN.COM – Petani hidroponik Agus Gunawan di Lingkungan Dermaga Malang, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon mengeluhkan sulitnya pemasaran hasil pertanian hidroponik.

Menurut dia, hasil pertanian hidroponik harganya berbeda dengan hasil pertanian konvensional yang beredar di pasaran sehingga cenderung lebih murah.

“Kendalanya yang pasti itu soal pemasaran. Dan ini insyaAllah keluhan seluruh petani hidroponik di Kota Cilegon. Memang harganya agak lebih mahal, tapi dari segi kualitas dan gizi kita berani mengadu dengan hasil tani konvensional,” kata Agus kepada Ekbisbanten.com, Rabu (27/10/2021).

Selain karena harganya yang berbeda dengan hasil tani konvensional, Agus menyampaikan, pengetahuan masyarakat soal hidroponik yang masih minim juga turut menyumbang kesulitan pemasaran hasil pertanian hidroponik.

“Saya sering bertemu pelanggan yang saya tawarkan, ketika ditanya apa perbedaanya antara konvensional dan hidroponik, saya hanya sekadar menjelaskan bahwa kita tidak menggunakan pestisida atau zat kimia yang bisa mempengaruhi kesehatan. Kadang kurang pahamnya masyarakat di situ,” ujarnya.

Pengelola Kinan Hydro Farm l yang telah berdiri selama satu tahun tersebut mengatakan, sebenarnya Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon telah hadir dan mengetahui permasalahan tersebut. Terlebih, tempat pertanian hidroponik miliknya tersebut pernah dikunjungi oleh orang nomor satu di Kota Cilegon.

“Peran pemerintah untuk saat ini ada, tapi baru sekadar mengkonsep. Kemarin saya bertemu dengan beberapa teman yg dari pemerintahan, beliau mencoba bikin sesuatu sistem penjualan online yang nanti semua petani hidroponik akan ditampung hasil taninya dan aplikasi ini nanti yg menjual, tapi itu belum terealisasi karena mungkin prosesnya lama,” terangnya.

Meski sudah ada wacana tersebut, Agus berharap kepada Pemkot Cilegon untuk segera menghadirkan solusi dan mengadakan edukasi tentang hidroponik kepada masyarakat.

“Yang dibutuhkan petani hidroponik tempat penampung hasil taninya, supaya petani tidak pusing mikirin penjualan. Petani hanya ingin bertani dan saat panen ada tempat yang menampung dengan harga yang normatif,” harapnya.

“Pemerintah juga perlu mengedukasi pentingnya keunggulan hidroponik. Kebanyakan guru-guru kami mengatakan kalau hidroponik itu lebih sehat dan nutrien ya bisa kita atur sesuai kebutuhan,” imbuhnya.

Sementara itu secara terpisah, Kepala Bidang Konsumsi dan Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Cilegon Sutardi saat dikonfirmasi melalui telepon akan menanggapi lebih lanjut besok.

“Besok saja ya konfirmasinya, saya lagi di luar beli barang-barang untuk hidroponik,” ujarnya melalu sambungan telepon.

Untuk diketahui, Agus telah menggeluti dunia hidroponik selama tiga tahun dan telah mencoba menanam sejumlah sayur-sayuran di antaranya Kangkung, Sawi Caisim, Bayam, Selada, Sawi Pakcoy.

Agus memiliki dua tempat pertanian hidroponik yang sedang dikelolanya. Meski tidak besar, darinya ia mampu meraih omset jutaan rupiah setiap kali panen dan kerap membagikan hasil panennya kepada masyarakat sekitar.**