Pesantren di Banten Siap Melaksakan KBM

21
Foto ilustrasi

SERANG, EKBISBANTEN.COM –Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Banten mengatakan, pendidikan pesantren di Banten siap melaksakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pondok pesantren bahkan lebih siap dan minim dalam resiko penyebaran Covid-19 dibanding sekolah umum.

Sekjen FSPP Banten Fadlullah mengungkapkan, pembukaan kegiatan belajar pesantren adalah metode yang paling bijak. Hal ini karena pesantren memiliki banyak kelebihan dalam memutus mata rantai penyebaran korona, terlebih bagi pondok dengan sistem mukim.

“Kalau mau memulai new normal, memulai kegiatan pendidikan dari pesantren akan lebih bijaksana. Karena kalau di satuan pendidikan formal non asrama kan banyak variabel penyebarannya, seperti ketika naik angkutan umum untuk ke sekolah sementara di pesantren lebih minim resikonya,” jelas Fadlullah, Senin (8/6).

Menurutnya, saat ini dari 3926 pondok pesantren di Banten yang terdaftar di FSPP juga tidak ada kasus santri, ustaz hingga kyai yang terkena korona.

“Kasus korona di pesantren sampai sekarang juga tidak ada, kemarin memang di Pandeglang ramai soal jamaah tabligh terkena tapi itu bukan dari pesantren tapi tamu dari Bangladesh,”katanya.

Fadlullah mengatakan pihaknya sudah memberikan tiga rekomendasi kepada pesantren-pesantren di Banten jika ingin memulai kegiatan belajar kembali. Hal ini disesuaikan dengan tiga katagori pondok, yaitu pondok dengan santri mukim (tinggal menetap) yang membatasi interaksi dengan orang luar, pondok dengan sistem mukim tapi tidak membatasi interaksi dan pondok dengan sisitem santri kalong

“Kategori pondok mukim dengan tembok pembatas mereka lebih aman, sementara pondok dengan sistem santri mukim tapi tanpa tembok itu harus dibicarakan dulu dengan RT/RW setempat agar warga sekitar tidak khawatir. Tapi juga harus dilihat untuk kategori kalau lingkungannya ada kasus covid saran kita jangan dibuka dulu kegiatan pesantrennya,” jelasnya.

Sementara bagi pesantren dengan sistem santri kalong atau santri tidak menetap di pesantren meskipun ada beberapa yang mukim, protokol kesehatannya disamakan dengan sekolah umum. “Untuk pesantren yang santri kalongnya lebih banyak perlakuannya sama dengan sekolah biasa, setiap hari harus ada pemeriksaan kesehatan jika akan dibuka,” ujarnya.

Fadlullah juga menyebut mayoritas pesantren di Banten kesadaran terkait protokol kesehatan sudah tinggi. Namun pihaknya meminta agar para kyai tetap berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan di kabupaten/kota agar pelaksanaan protokol kesehatan lebih efektif.

“Kita sarankan ke kyai-kyai untuk berkoordinasi dengan Dinkes baik provinsi atau kabupaten/kota untuk protokol kesehatan ini. Kita juga sudah bicara dengan Dinkes kalau mungkin ada rapid test massal ke pesantren,” katanya.

Selain itu FSPP Provinsi Banten juga meminta Pimpinan Pondok Pesantren menginstruksikan kepada para santri agar melakukan karantina mandiri di rumah sebelum kembali ke pesantren nantinya. Dimbau para santri untuk malakukan karantina dulu selama 14 hari sebelum kembali ke pondok, tapi memang untuk santri yang dari zona merah kita sarankan untuk tidak datang dulu. (Raden/red02)