Pertumbuhan Ekonomi Global Merosot, Ini Strategi BI Menghadapinya

12
Bank Indonesia
Diskusi tingkat tinggi yang merupakan side event pertemuan kedua tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (Finance Ministers and Central Bank Governors Meetings) digelar Bank Indonesia, Jumat (22/4/2022). (FOTO: DOK. BI).

EKBISBANTEN.COM – Diskusi tingkat tinggi yang merupakan side event pertemuan kedua tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (Finance Ministers and Central Bank Governors Meetings) digelar Bank Indonesia, Jumat (22/4/2022).

Kegiatan bertajuk ‘Memperkuat Pemulihan Ekonomi di Tengah Ketidakpastian yang Meningkat’ itu dilaksanakan secara daring dan luring bertempat di Washington DC, Amerika Serikat dan Jakarta, Indonesia.

Dikutip dari laman Bank Indonesia, adapun kegiatan berlangsung dalam situasi berbeda, karena berada di tengah tantangan yang disebabkan perang antara Ukraina dan Rusia. Disebutkan, perang menahan pemulihan ekonomi global khususnya melalui jalur suplai pangan dan energi.

Hal ini berpengaruh pada koreksi proyeksi IMF terkait pertumbuhan global 2022 menjadi 3,6%. Untuk itu diperlukan strategi guna memperkuat pemulihan ekonomi di tengah ketidakpastian tersebut melalui kebijakan dan optimalisasi peran G20.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengemukakan bahwa dalam hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan (RDGB) 19 April 2022, BI merevisi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,5% dari sebelumnya sebesar 4,4%. “Dan juga domestik menjadi 4,5-5,3% dari sebelumnya sebesar 4,7-5,5%,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Perry menjelaskan para anggota G20 menilai penting untuk mengetahui dampak perang guna menghadapi implikasinya bagi ekonomi.

Selain itu, anggota G20 menyepakati mekanisme baru dalam pembiayaan oleh WHO dan Worldbank bagi negara yang rentan, sebagai opsi yang efektif dalam jalan keluar untuk pulih bersama.

“IMF dapat berperan dalam pengelolaan arus modal, pembiayaan makro dan jaring pengaman keuangan global,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menyampaikan, di tengah ketidakpastian global, BI dan Kemenkeu harus menyeimbangkan antara stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Dalam menghadapinya, BI mengoptimalkan bauran dari tiga kebijakan. Pertama kebijakan moneter yang mengedepankan stabilitas sekaligus mendukung pemulihan ekonomi. Kedua, kebijakan makroprudensial yang ditujukan a.l. untuk mendorong ekonomi hijau,” ungkapnya.

“Ketiga, kebijakan sistem pembayaran yang ditujukan a.l. untuk mengakselerasi pembayaran digital. BI juga terus meningkatkan koordinasi antara BI dan Kementerian Keuangan dalam reformasi struktural dan pengendalian inflasi,” sambung Destry.*