Perputaran Uang di Banten Tembus 2,7 Triliun

11
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja. (Foto: Fikram / BantenInsight.co.id)

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten memproyekasi perputaran uang di Banten selama Bulan Ramadan dan Lebaran Idul Fitri mencapai Rp2,7 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan perputaran rupiah tahun 2020 lalu yang mencapai Rp1,8 triliun.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja mengatakan adanya peningkatan perputaran rupiah di Banten dilihat dari asumsi makro yang terakhir serta kegiatan ekonomi di Banten yang sudah mulai Kembali mengeliat sejak akhir Desember 2020 lalu.

“Kemarin ada larangan mudik tetapi kan ini diikuti dengan pembukaan beberapa restoran dan juga beberapa tempat wisata. Mudah-mudahan dapat terlaksana dengan protokol Kesehatan,” kata Erwin kepada wartawan usai menghadiri penutupan acara Penutupan Pelatihan Tenun Banten 2021 di Kampung Margaluyu, Desa Leuwidamar, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Selasa (20/4).

Lanjutnya, dengan demikian peredaran uang rupiah priode bulan suci Ramadhan dan lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah mencapai Rp2,7 triliun.

“Dan itu meningkat dari tahun lalu. Tahun lalu uang rupiah yang beredar Rp1,8 Triliun Provinsi Banten,” ujarnya.

Kata dia, dengan adanya pelarangan mudik lebaran dari pemerintah tentunya akan berdampak dengan perputaran ekonomi di Provinsi Banten.

“Peningkatan sebesar Rp2,7 Triliun itu sudah memperhitungkan dampak dari itu larangan mudik. Akan tetapi juga melihat beberapa kebijakan pemerintah daerah untuk tetap membuka wisata dan tempat hiburan dan juga aktifitas masyarakat yang lainnya,” katanya.

Lanjutnya, liburan yang berkurang juga menambah aktifitas masyarakat dalam Provinsi Banten.

“Cuma tanggal 11, 12 sampai 16. Jadi enggak lama-lama liburnya. Jadi ekonominya tetap berjalan,” ujarnya.

Erwin menambahkan, meskipun ada kenaikan jumlah peredaran uang rupiah mencapai Rp2,7 triliun, namun jumlah tersebut tidak sama halnya pada saat ekonomi sedang berjalan dengan normal. (Fikram/Ismet)