Perajin Gerabah di Ciruas Kewalahan Penuhi Pesanan

19
Foto proses pembakaran gerabah dilakuka oleh masyarakat Bumi Jaya, Serang.

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Perajin Gerabah yang berlokasi di Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, mengaku tidak bisa memenuhi permintaan pasar akibat sembilan sektor usaha termasuk pertambangan kembali dibuka pada bulan Juni 2020 lalu.

Salah satu kolektor gerabah di Ciruas, Suhaimi mengatakan, permintaan tinggi kuali kowi gerabah itu datang dari area pertambangan di wilayah selatan Sukabumi, Nayah, hingga Aceh.

“Dalam satu hari satu tempat bisa minta 1.000 unit kuali kowi. Hal tersebut dikarenakan gerabah mampu memisahkan senyawa emas dengan baik, dibandingkan dengan tembaga atau alumunium,” kata Suhaimi di kediamannya, Kamis (17/9).

Kendati permintaan gerabah cukup tinggi namun para perajin gerabah masih terhambat soal permodalan yang minim. Sehingga produksi gerabah menjadi sangat terbatas.

Ditambah kata dia, peralatan untuk proses produksi masih menggunakan alat tradisional sehingga produksi gerabah tidak maksimal.

“Karyawan kita juga banyak yang pindah ke Bali, kalau ada modal dan peralatan bagus kita bisa tarik lagi para pengerajin gerabah di Bali,” paparnya.

Selain akses permodalan yang minim lanjut Suhaimi, produksi gerabah di Ciruas belum memiliki pasokan bahan baku yang pasti. Sehingga ia terpaksa harus menunda permintaan dari para petambang emas.

“Kadang kita pending sampai satu bulan, karena bahan baku dan modal terbatas,” katanya.

Suhaimi menambahkan, dari segi kualitas, produk gerabah di Ciruas sudah mendapatkan pengakuan Internasional. Hal tersebut dibuktikan pada 2013 gerabah Ciruas mendapat penghargaan One Village One Product (OVOP) dari kementrian terkait.

“Kita sudah diakui dan punya nilai empat bintang (nilai paling tinggi-Red), Batik Banten saja baru dapat nilai dua bintang, walau dibakar untuk memfilter emas akan tahan lebih lama,” tutup Suhaimi. (Raden)