Pengguna E-Wallet Naik 63,5 Persen, Sementara Transaksi ATM Turun Selama Pandemi

105

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Riset yang dilakukan Inventure dan Alvara kepada 629 responden, menunjukkan aktivitas bertransaksi masyarakat pasca pandemi Covid -19 sebanyak 63,5 persen didominasi oleh cashless & cardless. Sehingga penggunaan digital wallet, E-Money, mobile banking, dan lain-lain akan semaik masif.

“Salah satu penularan virus Covid-19 yang paling masif ialah melalui transaksi uang fisik, karena banyaknya pertukaran kontak melalui media uang fisik,” kata Inventure dan Alvara dalam E-book Industry Megashifts yang dilansir Ekbisbanten.com, Minggu (3/1).

Lebih dari 20 perden masyarakat mulai dari Gen X sampai Gen Z lebih memilih akan tetap menggunakan digital payment untuk jangka waktu yang lebih panjang, hal ini juga didukung karena fitur dan layanan digital payment yang lebih memudahkan konsumen untuk bertransaksi.

Di Indonesia sendiri transaksi digital tidak hanya dilakukan oleh perusahaan yang berbasis digital. Pertamina saat ini juga sudah menguji coba untuk menyarankan transaksi konsumen di pom bensin mereka menggunakan cashless dan aplikasi digital lainnya.

Hal ini selain membantu mengurangi penularan dan penyebayar virus corona, juga menciptakan value lebih pada perusahaan yang menyediakan fitur transaksi digital. Bisa saja di masa depan sudah tidak ada lagi uang fisik yang beredar di pasaran. Apalagi dengan adanya pandemi kini banyak kota mulai memperkenalkan konsep cashless city. Welcome cashless society.

“Alasannya jelas untuk mengurangi potensi penularan virus. Tak heran jika kartu-kartu bank semakin jauh ditinggalkan terutama di era “low-touch economy” seperti sekarang. Uang elektronik berbasis cip dan kartu ini semakin tidak relevan lagi karena konsumen semakin menghindari kontak fisik,” imbuh Inventure dan Alvara.

Kini masyarakat khususnya kaum milenial tidak lagi menggunakan kartu sebagai alat pembayaran, dan beralih menggunakan ewallet. Singkatnya, adopsi e-wallet untuk payment semakin masif dan pembayaran digital berbasis aplikasi seperti OVO, Go￾pay, Link Aja, Shopee Pay, semakin digemari.

Terlebih lagi penerapan QR (Quick Response) dengan metode CPM (Customer Presented Mode) yang mampu membaca kode dalam aplikasi uang elektronik
pengguna memungkinkan konsumen untuk segera beralih menggunakan pembayaran digital non kartu.

Hal ini senada dengan hasil survei yang dilakukan oleh Center for Digital Society (CfDS) yang mengatakan bahwa telah terjadi peningkatan penggunaan dompet digital yang signifikan selama pandemi COVID-19 di Indonesia.

Sama halnya dengan laporan yang dirilis oleh BCG yang menyatakan bahwa tren pembayaran digital akan terus berlanjut selama dan setelah pandemi Covid-19. Sebaliknya, porsi transaksi di ATM turun dari 60 persen pada satu dekade silam menjadi 24 persen. (*/Raden)