Sabtu, 18 Mei 2024
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

Pengamat Sebut Politik Uang Ciderai Demokrasi

Budi Man

| 4 Januari 2024

| 19:00 WIB

Para pengamat dari kanan ke kiri, Fisip Untirta Leo Agustino, Presidium KMSB Uday Suhada, Hukum Untirta Nuryati Solapari di Pokja Wartawan Harian dan Elektronik Banten, Kamis (4/1/2024). Foto: Dokumentasi Pokja Wartawan Banten.

“Menolak politik uang dan orangnya. Jika diawali dengan curang dan culas bagaimana mau maju,” katanya.

Kemudian pengamat Politik UIN SMH Banten M. Zainor Ridho, menitikberatkan pada peran-peran masyarakat tertentu yang bisa meminimalisir terjadinya politik uang. Setidaknya ada tiga aktor yang bisa melakukan tersebut.

Pertama adalah politisi atau peserta pemilu, kedua administrator atau birokrasi seperti jajaran KPU dan Bawaslu, ketiga tokoh agama, jawara, serta kepala desa.

Selanjutnya, Sekjend Apdesi Banten, Rafik R Taufik membeberkan fakta yang terjadi di lapangan menjelang Pemilu. Ia membenarkan bahwa praktik politik kerap muncul setiap saat.

“Saya kurang sepakat serangan fajar. Faktanya serangan pagi, malam dan fajar itu lengkap ada di desa,” katanya.

Menurutnya, masyarakat desa menjadi penikmat dengan praktik politik uang yang sulit dikendalikan.

“Masyarakat menjadi objek untuk kepentingan politik. Sebab, soal pemilih itu ada dua, pertama ideologis dan pragmatis. Dan Itu fakta yang ditemukan di desa saya,” tukasnya.

Editor :Rizal Fauzi

Bagikan Artikel

Scroll to Top