Pemerintah Pacu Industri Kimia, Sebagai Tolak Ukur Negara Maju

69

JakartaEkbisbanten.com – Pemerintah mendorong sektor Industri Kimia sebagai penggerak ekonomi nasional, guna memasok kebutuhan bahan baku bagi sektor manufaktur dan lainnya, Sabtu (28/9).

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengungkapkan, industri kimia sering menjadi tolak ukur majunya suatu negara selain Industri baja. Hal ini senada dengan peta Making Indonesia 4.0, industri kimia merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang diprioritaskan menuju Indonesia 4.0.

“Tak heran jika keberadaan industri kimia sering menjadi backbone (lintasan cepat) dari sebagian besar sektor industri di dunia,” ujarnya.

Menperin melanjutkan, selama ini industri kimia sebagai salah satu sektor yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan devisa. Dilihat dari nilai ekspornya, sepanjang periode Bulan Januari sampai Agustus 2019, kelompok industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia ini telah menyumbang hampir USD 9 miliar.

Guna mendongkrak produktivitas dan daya saing industri petrokimia nasional, menurut Airlangga, selain perlu ditopang ketersediaan infrastruktur, juga pasokan energi menjadi vital sebagai bahan baku seperti gas industri. Hal ini mengingat penggunaan gas di sektor industri berkontribusi sangat signifikan dalam struktur biaya industri.

“Di sana akan ada pembangunan klaster baru hasil kerja sama Pertamina dengan China Petroleum Corporation (CPC) Taiwan. Jadi, nanti ada perusahaan induk dan beberapa perusahaan hilirnya, total investasinya sekitar USD 8 miliar,” tuturnya.

Indonesia memiliki potensi besar, melalui cadangan total minyak bumi 3,3 miliar barrel, cadangan total gas bumi 135,55 Trillion Standard Cubic Feet (TSCF), dan cadangan total batubara 39,89 miliar ton. Di samping itu, Indonesia juga menjadi produsen minyak sawit mentah terbesar di dunia dengan produksi 48 juta ton per tahun (68% produksi dunia).

“Kami terus mendorong tumbuhnya klaster yang terintegrasi, seperti di Cilegon, Gresik, dan Bontang. Selanjutnya akan dikembangkan di Bintuni, dan salah satu kawasan ekonomi khusus yang sedang direvitalisasi adalah di Lhokseumawe,” tutup Airlangga. (Raden)