Pedagang Warteg di Kota Cilegon ‘Stres’ Gegera Harga Pangan Melonjak

56
Petugas parkir saat hendak masuk ke warteg Putra Bahari di Kota Cilegon. (Foto: Maulana/Ekbisbanten.com)

CILEGON, EKBISBANTEN.COM – Sejumlah pengusaha warung tegal (warteg) di Kota Cilegon mengeluh lantaran harga bahan pangan dan sayuran di Pasar Kranggot Cilegon terus melambung.

Hal itu diungkapkan Agung Prasetyo, pengusaha Warteg Bahari yang berlokasi di Jalan Letjen R Suprapto, Kelurahan Ramanuju, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon. Ia mengaku, kenaikan bahan pangan dan sayuran sangat berdampak pada bisnisnya.

“Terus terang saja sangat berpengaruh, Mas. Kalau dibilang kita bersyukur mah kita bersyukur, masih alhamdulillah kalau buat muter mah, tapi kalau bicara untung itu tipis. Kita belanja 60 persen, pendapatan 40 persen sedangkan daya beli standar,” katanya kepada Ekbisbanten.com, Jum’at (17/6/2022).

Agung mengungkapkan, akibat kenaikan harga bahan-bahan pangan tersebut sering kali ia merasa dilema. Pasalnya, meski harga sejumlah bahan pangan terutama untuk bumbu-bumbu mengalami kenaikan, namun harga makanan yang dijual tak bisa ia naikkan atau dikurangi porsinya.

“Di tempat saya porsi tetap sama. Kalau porsi kita kurangin otomatis pelanggan berkurang. Harga masih standar gak ada kenaikan meskipun harga di pasar naik,” ungkapnya.

Tak ingin terus-terusan merugi di tengah kenaikan harga bahan-bahan pangan di pasaran, Agung mensiasati penggunaan bumbu untuk masakan di warung makannya.

“Kalau untuk ibaratnya mengakali semua ini paling bumbu aja kita kurang-kurangin, di-pres secukupnya. Misal kita biasa beli cabai sekilo ini biar gimana caranya bisa sampai dua hari. Tapi praktiknya biasanya kita pakai cabai basah itu sehari sekilo,” ujarnya.

Lantaran penggunaan cabai basah untuk masakan di warung makannya dirasa lebih boros, Agung beralih menggunakan cabai kering untuk bumbu masakannya.

“Kita mengakalinya pakai cabai kering, kalau cabai kering itu kan sekilonya 110 tapi untuk cabe kering pemakaiannya bisa sampai 4 hari,” ucapnya.

Meski dari segi penggunaannya cukup hemat, Agung mengaku tak ingin terus-terusan menggunakan cabai kering yang secara kualitas tidak seperti cabai basah biasanya.

“Secara kualitas kita gak tahu ya namanya cabai kering, kalau cabai basah kan kelihatan masih segar dari petani ke tengkulak, kalau cabai kering 50:50. Makanya kita pakai cabai kering untuk bumbu dan sambalnya. Saya gak bilang cabai kering itu jelek, cuma fifty-fifty saja. Alhamdulillah selama ini konsumen gak ada yang komplain juga sih, paling komplain kepedasan doang karena pakai cabai kering itu memang lebih pedas,” katanya.

Oleh karena itu Agung berharap, pemerintah dapat menyikapi persoalan kenaikan harga bahan pangan tersebut dengan serius. Ia meminta agar bahan-bahan pangan di pasaran dapat kembali stabil.

“Tolong lah Pak, Bu untuk distabilkan agi. Saya gak pengen harga murah-murah, enggak, saya juga menghargai pemerintah, mereka juga sebenarnya pusing untuk menstabilkan ini. Cuma yang jadi permasalahan bagi saya kalau memang ada subsidi atau dana lebih tolong dipergunakan lebih baik aja untuk menstabilkan harga pangan yang tinggi, kan gak semua orang bisa beli dengan harga yang tinggi ini, apalagi makan itu kebutuhan pokok,” pungkasnya.

Diketahui, saat ini berdasarkan data daftar harga komoditas bahan pangan di Pasar Kranggot Cilegon Jum’at, 17 Juni 2022, cabai rawit merah per kilogramnya masih bertengger di Rp100 ribu, cabai merah keriting Rp80 ribu, bawang merah Rp 55 ribu, tomat Rp 16 ribu.***