Pandemi Covid-19 Membawa Berkah atau Bencana Bagi UMKM?

29
Rohmawati (22) Mahasiswi Ilmu Ekonomi Universitas Al-Khairiyah (Unival) Kota Cilegon sekaligus pemilik olshop Zakimoza saat menunjukan sebagian produk jualannya, Sabtu (17/7). Dari kejeliannya memanfaatkan kemajuan tekonologi, ia mampu memenuhi biaya kuliah dan keluarganya dari jualan lewat media sosial. (Foto: Fauzul Imam / Ekbisbanten.com

PANDEMI Covid-19 yang melanda Indonesia turut mamukul keras sektor dunia usaha termasuk pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Provinsi Banten.

Menurut Katadata Insight Center, Kamis (9/9), kondisi UMKM sebelum adanya Covid-19 dialami cukup baik oleh hampir seluruh pelaku usaha. Namun, saat terjadi Covid-19 keadaan berbalik. Sebanyak 56,8 persen UMKM berada dalam kondisi buruk, hanya 14,1 persen UMKM yang masih berada kondisi baik.

Menyiasati kondisi itu para UMKM melakukan sejumlah upaya untuk mempertahankan kondisi usahanya agar dapur keluarga mereka tetap ngebul. Sejumlah langkah efisiensi pun terpaksa diakukan seperti mengurangi jam kerja dan jumlah karyawan, menurunkan produksi barang/jasa,  dan menurunkan saluran penjualan/pemasaran.

Selain itu, berbagai cara dilakukan agar dapat melewati pandemi ini. Baik pemasaran cara offline, online, ataupun kombinasi antara keduanya. Namun, akses internet serta indeks kesiapan digital dari pelaku usaha ini menurut Katadata Insight Center menunjukkan bahwa UMKM di Jabodetabek tidak sepenuhnya siap untuk serta merta beralih ke digital

Dari skala tertinggi adalah 5, indeks Kesiapan Digital dari UMKM di Jabodetabek memiliki nilai rata-rata di angka 3,6. Penilaian ini diukur berdasarkan Indeks Kesiapan Digital dari UMKM tersebut, yaitu indikator optimisme, kompetensi, keamanan, dan kenyamanan.

Hal inilah yang diakui salah satu perajin sekaligus pemilik UMKM kasur dan bantal, Sanuddin di Kota Cilegon, tepatnya di Lingkungan Palas, RT 017/001, Kelurahan Bendungan, Kecamatan/Kota Cilegon. Gegara pandemi Covid-19, omset uhasanya terpukul parah. Dari sebelumnya mampu meraup omset Rp60-70 juta per bulan, kini hanya mampu meraih Rp20 juta per bulan.

“Ketika kondisi begini (penjualan) jadi sepi, permintaan dari Pulau Sumatera juga diberhentikan. Sekarang omset paling Rp20 juta, dengan keuntungan sedikit, bisa balik modal dan gaji karyawan juga sudah bersyukur,” kata Sanuddin kepada Ekbisbanten.com, Selasa (7/9/2021).

Agar usahanya tetap bertahan, ia terpaksa mempekerjakan 12 orang karyawannya secara bergantian tanpa harus memberhentikan bekerja atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak. Tujuannya tentu untuk menghemat biaya pengeluaran yang tidak sebanding dengan jumlah pemesanan produknya.

“Jadi misalkan kalau tukang masukin busa sudah selesai ya di istirahatkan dulu, gantian sama yang lain, gak bisa terus menerus kerja seperti dulu,” katanya.

Sementara itu, Pusat Inkubator Wirausaha dan Klinik UMKM (PIWKU) Banten mencatat bahwa ratusan UMKM di sektor sekunder dan tersier di Kota Cilegon mengalami keterpurukan akibat wapah pandemi dan penerapan kebijakan PPKM.

Direktur PIWKU Banten Laura Irawati mengungkapkan, bahwa saat ini ratusan pelaku UMKM yang masuk kedalam PIWKU mengalami keterpurukan omset penjualan. Alasannya, masyarakat saat ini lebih mengedepankan kebutuhan primer dari pada kebutuhan sekunder dan tersier. Sehingga para konsemen mereka banyak yang tidak membeli produk UMKM. “Dari 400 UMKM yang aktif di PIWKU hampir semuanya mengeluh,” kata Laura kepada Ekbisbanten.com, Selasa (3/8).

Untuk menyiasati kondisi itu, pihaknya menyarankan pelaku UMKM di Kota Cilegon mengkombinasikan pemasaran secara online atau ditigal dan offline. Selain itu, pihaknya juga  melakukan pendampingan dan penyuluhan kepada pelaku UMKM agar bisa bertransaksi secara online.

“Kita ajarkan cara bertransaksi online, cara menggunakan medsos untuk pemasarannya, melakukan pendamping selama 6 bulan dan masih banyak lagi,” ungkapnya.

Pihaknya berharap, melalui pendamping dan pelatihan para UMKM lebih inovatif dan paham digital marketing untuk bisa keluar dari keterpurukan saat ini.

Digitaliasi UMKM Sangat Dibutuhkan di Masa Pandemi

Pemprov Banten terus mendorong pelaku UMKM di Banten agar dapat bertransformasi ke digital agar mampu bertahan di tengah pandemi. Salah satu caranya memasarkan produk UMKM secara digital, baik melalui platform e-commerce atau jual beli online maupun menggunakan media sosial seperti facebook, instagram, twitter, line dan apliasi sejenis lainnya. 

Menurut Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy dalam telekonferensi Launching Bulan Layanan Digital & Mandiri Festival Belanja Banten yang digelar Bank Mandiri beberapa waktu lalu, menyatakan saat ini diperlukan stimulus ekonomi khususnya bagi pelaku UMKM di seluruh sentra produksi di Provinsi Banten.

“Karena itu kemitraan antara pemerintah daerah dan dunia usaha, sektor perbankan, perusahaan telekomunikasi, dan media massa perlu terus dikembangkan menyukseskan Program UMKM Go Digital di Provinsi Banten,” kata Andika.

Hal senada diungkapkan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja, ia mengatakan, Bank Indonesia akan terus mendorong pelaku UMKM beralih menggunakan ptlaform digital sesuai tuntutan zaman.

“Karena mengingat peran UMKM memiliki dampak yang besar untuk mewujudkan daya tahan perekonomian, serta tren kebutuhan saat ini akan layanan keuangan yang cepat, efisien dan aman sudah jadi kebutuhan masyarakat. Untuk itu, BI telah merumuskan blue print sistim pembayaran Indonesia tahun 2025 guna membangun ekosistem yang sehat sebagai pemandu perkembangan ekonomi dan keuangan digital di Indonesia,” kata Erwin pada acara Peluncuran QRIS UMKM Kriya dan UMKM Pendukung Pariwisata dalam rangka dukungan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) lewat aplikasi zoom, dalam satu kesempatan.

Sementara itu, Pedadagang online shop sekaligus Mahasiswi Ilmu Ekonomi Universitas Al-Khairiyah (Unival) Kota Cilegon, Rohmawati (22) mengaku, sejak memanfaatkan kemajuan tekonlogi digital, dari bisnisnya lewat instagram dan facebook, ia menuai berkah dan mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga untuk membayar uang kuliah. Bahkan tak jarang, uang hasil jualannya ia berikan untuk membantu orang tua dan adik-adiknya yang masih sekolah.

“Usaha ini saya lakukan awalnya untuk kemandirian saya, agar tidak bergantung dengan orang tua,” kata Rohmawati kepada Ekbisbnten.com, Sabtu (17/7).

Adapun berbagi produk yang ia jual, mulai dari fashion atau pakaian, asesoris, perlengkapan sekolah, produk kecantikan, hampers dan produk kebutuhan sehari-hari lainnya. Barang dagangannya itu ia jual melalui akun media sosial facebook Rohmaw, instagram @rohmaabnd dan whatsapp 085773472735.

Dari jualannya itu, anak keempat dari enam bersaudara ini mengaku meraih keuntungan hingga Rp5 juta lebih per bulan.

“Ternyata usaha online shop (Olshop) ini sangat menguntungkan. Karena produk yang dijual dari harga mulai Rp 10 ribu sampai jutaan pun ada,” kata wanita yang akrab dipanggil Rohma ini. (ismet)