NTP 3 Subsektor Banten Merosot

67
Area budidaya tanaman cabai merah di Kecamatan Baros, Kabupaten Serang. (Foto: Dok. Ekbisbanten.com)

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten merilis nilai tukar petani (NTP) tiga subsektor Banten pada Mei 2020 mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya.

“Penurunan NTP Mei 2020 ini disebabkan oleh turunnya NTP pada tiga subsektor dari lima subsektor yakni subsektor tanaman pangan turun sebesar 2,68 persen, subsektor hortikultura yang turun sebesar 2,58 persen dan subsektor perikanan turun sebesar 0,26 persen,” kata Kepala BPS Provinsi Banten Adhi Wirian melalui siaran video Youtube, kemarin.

Sedangkan, NTP dua subsektor lainnya, yaiu subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami kenaikan sebesar 0,75 persen dan subsektor peternakan yang mengalami kenaikan indeks sebesar 0,18 persen

“Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan di empat kabupaten di Provinsi Banten pada Mei 2020, NTP secara umum mengalami penurunan dibandingkan NTP April 2020 yakni turun sebesar 2,09 persen,” katanya.

BPS juga mencatat, nilai tukar petani (NTP) Banten pada Mei 2020 kemarin sebesar 101,45 atau turun 2,09 persen dibanding bulan sebelumnya 103,61.

“Penurunan NTPBanten dikarenakan adanya penurunan indeks harga yang diterima petani lebih tinggi daripada penurunan indeks harga yang dibayar petani,” katanya.

Lebih lanjut Adhi menjelaskan, penurunan NTP yang terjadi pada Mei 2020 ini dikarenakan oleh indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan sebesar 2,23 persen dan indeks harga yang dibayar petani juga mengalami penurunan sebesar 0,14 persen.

Pada bulan Mei 2020 NTP padi dan palawija mengalami penurunan indeks sebesar 2,68 persen atau turun dari 104,55 menjadi 101,76. Hal ini disebabkan karena penurunan indeks harga yang diterima petani sebesar 2,77 persen lebih tinggi dari penurunan indeks harga yang dibayar petani yakni sebesar 0,09 persen.

Sementara itu, nilai tukar petani subsektor hortikultura pada bulan Mei 2020 mengalami penurunan sebesar 2,58 persen atau turun dari 106,07 menjadi 103,33.

“Hal ini terjadi karena penurunan indeks harga yang diterima petani sebesar 3 persen lebih tajam dari penurunan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,43 persen,” pungkasnya. (Red-01)