Menilik Potensi Besar Santripreneur di Indonesia

53

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Potensi Indonesia untuk mencetak wirausaha baru (WUB) bisa dikembangkan melalui lini pesantren. Melalui program Santripreneur, para santri yang tersebar di lebih dari 28 ribu pondok pesantren (ponpes) di seluruh Indonesia bisa menjadi wirausaha yang naik kelas.

Data Kementerian Agama hingga Agustus 2019 menunjukkan, terdapat 28.194 ponpes yang tersebar di seluruh provinsi dengan total lebih dari 4,2 juta santri. Dari total 28.194 ponpes, sekitar 23.331 ponpes (80%) di antaranya tersebar di empat provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banten.

“Kami terus menggalakan program Santripreneur ini karena melihat potensi besar dari pesantren dan para santrinya,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih di Jakarta, Selasa (04/08/2020).

Kemenperin pun melanjutkan penyelenggaraan kegiatan Penumbuhan dan Pengembangan WUB dalam bentuk bimbingan teknis dan fasilitasi mesin dan peralatan. Namun, di tengah kondisi pandemi COVID-19, seremoni pembukaan dilakukan secara daring.

Tahun ini, program Santripreneur menyasar sejumlah ponpes yang tersebar di berbagai wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang meliputi Malang, Purworejo, Kendal, Batang, Semarang, dan Demak. 

Kegiatan fasilitasi mesin dan peralatan ini dijalankan di Ponpes Bahrul Maghfiroh, Ponpes An Nur II Al Mutadlo, Ponpes Al Iman, Ponpes Nuril Anwar, Ponpes Azzahro’, Ponpes Al Minhaj, Ponpes Askhabul Kahfi, dan Ponpes Sholihiyyah.

“Fasilitasi mesin dan peralatan produksi ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pondok pesantren sebagai unit bisnis yang baru pada pondok pesantren,” ungkap Gati.
Sejak 2013, program Santripreneur telah membina 75 ponpes dan 9.988 santri. Upaya ini diyakini dapat menumbuhkan wirausaha sektor IKM dari lingkungan ponpes.

“Pesantren dan para santri yang ada di pondok merupakan potensi yang dapat dikembangkan dengan stimulus yang tepat guna dan tepat sasaran. Kami melihat banyak pesantren yang sudah dapat memenuhi kebutuhan internal pesantren bahkan memiliki unit bisnis yang juga melayani kebutuhan luar pesantren,” papar Gati.

Data Global Entrepreneurship Index 2019 menunjukkan, Indonesia saat ini berada di peringkat 75 dalam hal kewirausahaan di antara 137 negara. Posisi Indonesia naik 14 peringkat dibanding tahun sebelumnya dan memiliki kenaikan peringkat tertinggi dibanding negara-negara ASEAN lain.

“Ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama antara pemerintah dengan masyarakat, terutama bagi para santri untuk bersama-sama membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih baik. Oleh karena itu, kami mendorong agar para santri selepas lulus dari pondok tidak hanya menjadi guru di Mushola atau Masjid tapi juga menjadi seorang Santripreneur,” terang Gati.
  
Menurut Dirjen IKMA, unit industri yang dijalankan oleh ponpes akan bertambah maju jika dikelola dengan baik, karena didukung dengan lokasi yang strategis berada di sekitar pemukiman penduduk. “Jadi, bisa menjalankan wirausaha di bidang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar,” imbuhnya.

Sementara itu, Wahyu Setianto, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Malang menyampaikan, pihaknya menyambut baik dan memberikan apresiasi kepada Ditjen IKMA Kemenperin atas penyelenggaraan kegiatan bimbingan teknis wirausaha IKM berbasis Pondok Pesantren di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Menurutnya, melalui kegiatan tersebut dapat mengembangkan pemberdayaan ekonomi berbasis pondok pesantren dan menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan di kalangan santri maupun alumni santri dan juga menguatkan ekonomi produktif berbasis industri serta melahirkan wirausaha baru di kalangan pondok pesantren.

“Apalagi di tengah era beradaptasi dengan kebiasaan baru saat ini, recovery ekonomi daerah menjadi fokus kita saat ini. Untuk itu, skema-skema pelatihan atau bimtek untuk menumbuhkan wirausaha baru dan peningkatan kapasitas pelaku IKM diiringi dengan pemberian bantuan peralatan dan mesin produksi akan mengakselerasi pergerakan para pelaku IKM,” jelasnya. (*/Raden/matketeers)