Mengintip Kesuksesan Tilik dari Sisi Marketing

25

EKBISBANTEN.COM – Film pendek Tilik menjadi perbincangan hangat dikalangan netizen Indonesia. Film pendek produksi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DIY bekerja sama dengan Ravacana Films ini disorot karena ceritanya yang dekat dengan masyarakat serta dialog yang nyinyir khas ibu-ibu tetangga.

Bercerita mengenai gerombolan ibu-ibu desa yang berdesakkan di bak truk terbuka sedang melakukan perjalanan untuk tilik (menjenguk) bu Lurah di rumah sakit di kota. Di atas truk, sebagaimana khasnya ibu-ibu, mereka bergosip tentang perempuan muda bernama Dian.

Tilik sendiri sebenarnya telah lama diproduksi dari tahun 2018 dan telah memenangkan beberapa penghargaan seperti Piala Maya 2018 di kategori Film Pendek Terpilih, Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2019, serta Official Selection World Cinema Amsterdam 2019.

Lantas apa yang menyebabkan Tilik booming pada saat ini?
Memperingati hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus lalu, Tilik resmi ditayangkan di YouTube Ravacana Films.

Bisa dibilang, perilisan film ini sangat pas dengan momentum di mana sebagian masyarakat masih melakukan social distancing. Kanal digital pun menjadi alternatif dalam mencari penghiburan di saat tidak bisa kemana-mana. Tilik pun menjadi pilihan yang menarik bagi masyarakat.

“Perilisan Tilik ini tepat dengan momentum long weekend dan perayaan 17 Agustus. Masyarakat yang sedang bosan di rumah akhirnya berselancar di platform YouTube dan menemukan film Tilik. Tidak sedikit yang akhirnya membagikan film tersebut di media sosial lainnya,” jelas Giovanni Alexander, Senior Associate MarkPlus Inc. dalam gelaran acara Jakarta Marketing Week (JMW) 2020, Jumat (18/09/2020).

Tilik dan Konsep 5A
Media sosial memiliki peran yang sangat penting sebagai media promosi Tilik. Di dunia marketing terdapat konsep 5A, yaitu aware, appeal, ask, act, dan advocate).

Media sosial kemudian membuat masyarakat aware atau tahu mengenai kehadiran film Tilik dan ceritanya yang lucu karena adanya sosok Bu Tejo.

Selanjutnya adalah posisi ask, di mana masyarakat semakin penasaran terhadap film Tilik.  Ketika rasa penasaran sudah memuncak, masyarakat dan netizen pun bereaksi (act) dengan menonton film tersebut. Dan, akhirnya mereka yang menjadi audiens juga melakukan advocate atau membagikan film tersebut ke berbagai media sosial.

“Jika dilihat, booming-nya film Tilik ini sama dengan film Parasite yang memenangkan piala Oscar beberapa bulan lalu. Di mana, media sosial memiliki peran penting terhadap promosi film dan membuatnya terkenal di seluruh dunia,” kata Giovanni.

Giovanni menambahkan, konten lokal yang menarik dengan penggunaan dialog bahasa daerah juga menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat Indonesia terhadap film Tilik. Dapat dikatakan, ini juga menjadi salah satu faktor appeal dari Tilik.

Kesuksesan Tilik juga tidak lepas dari peran influencer yang mengulas film tersebut di ranah media sosial. Keke Genio, Business Analyst MarPlus Inc. mengatakan, beberapa influencer dilibatkan dalam promosi film Tilik pada tanggal 13-20 Agustus lalu.

“Produser film Tilik Elena Rosmeisara mengaku, untuk melakukan promosi filmnya mereka melibatkan influencer untuk mengulas Tilik secara otentik dan tidak hard selling. Nama sutradara terkenal Joko Anwar menjadi salah satunya,” kata Keke. (*/Raden/Marketeers)