Jumat, 19 Juli 2024
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

Menginspirasi! Sosok Jamadi, Kepala Sekolah dan Advokat Muda Asal Banten yang Raih Gelar Doktor Bidang Bisnis

Budi Man

| 1 Februari 2024

| 13:00 WIB

Sosok Jamadi, Advokat muda dan Kepala SMP di Islamic Boarding School Pondok Pesantren Ardaniah Pusat Banten berhasil meriah gelar S3 bidang Administrasi Bisnis di Undip. Foto: Dokumentasi Jamadi.

EKBISBANTEN.COM- Sekilas tak ada yang istimewa dari pria yang kerap kali disapa ustaz asal Ciwandan, Kota Cilegon. Jamadi nama aslinya, tak ingin dipanggil ustaz dan menyembunyikan banyak kelebihan di balik sosoknya. 

Putra Banten yang lebih akrab disapa bang Jem, membagikan kisah menariknya bergelut dengan profesi Advokat sambil menyelesaikan pendidikan S3 bidang Bisnis di Universitas Diponegoro Semarang pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. 

Kepala SMP di Islamic Boarding School Pondok Pesantren Ardaniah Pusat Banten itu mengaku, butuh perjuangan lebih dalam hal biaya untuk sampai memakai Toga Wisuda S3. 

“Yang jelas untuk menyelesaikan S3 itu biayanya mahal dan banyak hal-hal juga yang dikorbankan. Dari SD sampai S3, saya susah untuk biaya sekolah, bahkan banyak menunggak bayaran. Jadi saya tidak akan menyia-nyiakan kan gelar ini, puji syukur kepada Allah SWT yang sudah mengabulkan semua hajat-hajat saya, orang tua dan istri yang sudah mendukung segala aktivitas saya. Karena yang namanya belajar menjadi sebuah keharusan,” ujarnya diselingi guyon, Kamis (1/2/2024). 

Bahkan jika ada S4, ia mengaku akan melanjutkan pendidikanya. Jika perlu, merogoh kocek lebih dalam untuk pendidikan pun tak masalah. 

“Kalau berkaitan dengan belajar, misalkan punya sawah atau ladang pasti saya jual tapi sayangnya tidak ada hahaha,” ujarnya sambil tertawa. 

Ia paham, pendidikan itu penting, walaupun bukan berasal dari keluarga berada, namun ia ingin buktikan bahwa orang miskin sekali pun bisa selesai S3 tanpa bantuan pemerintah. 

“Maka generasi selanjutnya jangan sampai menyerah,” imbuhnya. 

Ia melanjutkan, pendidikan selain penting, juga merupakan sesuatu yang istimewa. Tak sembarang orang punya akses dan usaha lebih untuk bisa melaluinya. 

“Tidak semua orang bisa menempuh pendidikan S3. Ada yang punya biaya, tapi tidak punya waktu untuk kuliah S3 ataupun sebaliknya,” terangnya. 

“Kunci utama adalah kemauan dan libatkan Allah dalam segala hal. Sehingga, meski tidak punya waktu dan biaya, maka akan tetap bisa menempuhnya. Pokoknya intinya niat dan kemauan dahulu, baru ada jalan,” sambungnya. 

Ia bercerita selama proses perkuliahan S3, didominasi oleh kegiatan-kegiatan penelitian dan pengembangan teori-teori baru yang berhubungan dengan bidang keilmuan yang dipilihnya.

Dalam hal ini, ia mengambil konsentrasi dalam bidang Administrasi Bisnis dengan judul Disertasi “Peran Proactive Dynamic Knowledge Sharing dalam Memediasi Kemampuan Integration, Reconfiguration, Learning Upaya Meningkatkan Kinerja Karyawan”.

“Menjadi seorang Akademisi sekaligus Advokat belajar itu harus, karena hampir setiap harinya selalu berinteraksi dengan klien ataupun partner,” terangnya. 

Jaman sekarang, kata dia, bukan hanya modal penampilan dan kepercayaan saja, namun kecerdasan juga hal yang utama yang perlu ditonjolkan.

Perlu siasat dan kecerdasan untuk mengimbangi multi profesi yang ia emban. Terbayang, menjadi advokat, akademisi, sekaligus menjabat Kepala SMP di salah satu Kota Baja. Betapa sibuknya dirinya hingga harus membagi waktu dan pikiran untuk bisa mengimbanginya. 

Namun bukan masalah bagi dirinya, ia memiliki kunci agar bisa membagi peran dalam aktivitasnya. 

“Cerdas adalah modal utama seorang advokat sehingga dapat memberikan pendampingan maksimal terhadap kliennya,” katanya. 

“Belajar adalah modal terpenting bagi seorang akademisi dan pendidik sehingga ada pengetahuan yang bisa ditransfer ke peserta didik,” tutupnya. 

Editor :Rizal Fauzi

Bagikan Artikel

Terpopuler_______

Scroll to Top