Kurangi Emisi Karbon, 52 PLTU Se Indonesia Bakal Ubah Sampah Jadi Energi Listrik

17
TPSA Bagendung
Walikota Cilegon Helldy Agustian (ketiga dari kiri) pada acara Grand Launching BBJP Pilot Plant di TPSA Bagendung, Rabu, 1 Desember 2021.(Foto: Istimewa)

CILEGON, EKBISBANTEN.COM – Demi mengurangi emosi karbon, sebanyak 52 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di seluruh Indonesia diminta segera menjalankan program cofiring.

Diketahui, program cofiring itu merupakan proses mencampurkan sampah dengan batu bara menjadi penghasil energi listrik yang disebut bakal mengurangi emosi karbon yang dihasilkan dari pembakaran batu bara. Hal itu dilakukan demi tercapainya terget pemerintah yaitu zero carbon pada 2025 mendatang.

“PLN siap untuk melakukan progran yang sama di 52 PLTU yang ada di seluruh Indonesia. Jadi kami sudah melakukan sosialisasi,” kata Direktur Mega Proyek PT PLN, Wiluyo Kusdwiharto kepada wartawan , Rabu (1/12/2021).

Wiluyo mengatakan, saat ini PLN melalui PT Indonesia Power sedang menguji coba sampah di TPSA Cilegon untuk dijadikan bahan campuran batu bara di PLTU Suralaya.

“Untuk program cofiring salah satu programnya itu memanfaatkan sampah untuk mengganti sebagian batu bara kita. Dari sisi emisi sangat bagus karena disambungkan dengan emisi karbon karena pemerintah punya target zero carbon tahun 2025 dan program cofiring ini adalah salah satu cara untuk menurunkan karbon,” ujarnya.

Setelah di Cilegon, dikatakan Wiluyo, PLN juga bakal menggarap proyek percontohan yang dilakukan di Muara Enim, Sumatera Selatan.

“Tahap berikutnya kami sudah ngomong dengan PTBA untuk segera diluncurkan juga di Muara Enim dan diluncurkan juga di daerah-daerah lain,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Walikota Cilegon Helldy Agustian menyampaikan, proyek percontohan cofiring sampah jadi energi listrik ini ditargetkan dapat memproduksi secara massal sebelum September 2022.

“Segera mungkin tahun depan kita akan realisasikan, intinya sebelum September 2022 harus terealisasi dan nanti mudah-mudahan bisa ter-publish secara internasional nanti di Bali,” ucapnya.

Sementara, untuk memenuhi kebutuhan cofiring sampah yang dijadikan Bahan Bakar Jumput Padat (BBJP) yaitu 400 ton per hari untuk kebutuhan PLTU Suralaya. Namun, produksi dari proyek percontohan cofiring ini baru 40 ton per hari.

Helldy berharap industri di Cilegon yang memakai bahan batu bara bisa menyerap sampah dari TPSA Cilegon.

“Harapannya nanti industri lain bisa memanfaatkan ini, kita bisa sama-sama mengurangi sampah yang menumpuk di Cilegon dan bisa mengurangi emisi karbon,” ujarnya.***