Kohati Cabang Serang Gelar LKSG Guna Tingkatkan SDM Sadar Keadilan Gender

| Jumat, 3 Februari 2023

| 19:38 WIB

LKSG Kohati Cabang Serang. BPSDM Provinsi Banten.( Foto/Jule/ekbisbanten.com)

PANDEGLANG, EKBISBANTEN.COM – Korps HMI-Wati (Kohati) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Serang baru saja selesai melaksanakan Latihan Kader Sensitif Gender (LKSG) Tingkat Nasional pada 30 Januari -2 Februari 2023 di Balai Pelatihan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Banten, Pandeglang, Senin, 30 Januari 2023.

Mengusung tema “Penguatan paham adil gender dalam perspektif keislaman dan keindonesiaan” kegiatan ini pertama kali diadakan oleh Kohati HMI Cabang Serang.

Ketua Umum Kohati HMI Cabang Serang, Amalia Choirunnisa mengatakan LKSG di tahun 2023 memiliki dua tujuan utama. Pertama, berbicara Gender tentu tidak akan pernah ada habisnya. Gender memiliki makna status sosial antara laki-laki dan perempuan diberbagai sektor.

“Karena Gender bukan persoalan jenis kelamin dan kodrat. Adil Gender harus dipahami sejak dini, agar tidak keliru bagaimana memaknai konteks Gender tersebut,” ujarnya

“Kedua, LKSG ini menjadi sejarah untuk Kohati HMI Cabang Serang, karna semasa periodesasi Kohati Cabang Sedang hadir, ini kali pertama,” tambahnya.

Menurutnya, pembahasan tentang gender diangkat menjadi isu serius dan dibahas tuntas dalam forum training non-formal Kohati tingkat Nasional.

“Saya harap, teman-teman MOT (Master of Training) dapat membantu peserta dalam memahami tentang konsep adil gender dalam perspektif keislaman ke indonesiaan,” ungkapnya

Di lain sisi Ketua Umum Badko HMI Jabodetabeka-Banten, Fadli Rumakefing menjelaskan ada dua perspektif yang dibawa dalam tema acara tersebut yaitu perspektif keislaman dan keindonesiaan.

“Saya akan membawa teman-teman dalam perspektif ke-Indonesia-an dimana feminisme dalam kekinian di Indonesia. Dan melihat terjadi gepakan feminisme yang terlalu vulgar,”

Menurut Fadli, perempuan menuntut tentang kebebasan diruang publik tetapi terjebak dalam relasi kapitalisme dan produksi-produksi kapitalisme.

“Tidak banyak perempuan bekerja dalam pabrik kapitalisme, berapa banyak perempuan-perempuan yang menjadi semacam human trafficking dalam produksi-produksi kapitalisme,” pungkasnya.

Editor :Rizal Fauzi

Bagikan Artikel

Terpopuler_______

Scroll to Top