KKB 2020, UMKM Punya Potensi Besar di Era Digital

66

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Mengawali rangkaian Karya Kreatif Banten (KKB) 2020, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten menggelar seminar daring (web-seminar atau webinar) bekerja sama dengan Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja menyampaikan bahwa terdapat 3 (tiga) butir key findings dalam penguatan UMKM kedepan. Pertama, penting bagi pelaku UMKM menjalankan usaha dengan orientasi bisnis yang kuat agar usaha mandiri dan tangguh. Kedua, perlunya peningkatan kapasitas SDM yang menguasai teknologi dan selalu inovatif agar bisnis yang dijalankan memiliki daya saing, baik dari aspek branding, promosi, akses dan networking.

“Ketiga, aspek pembiayaan dimana UMKM memerlukan dukungan pembiayaan yang disesuaikan dengan skala pertumbuhannya,” kata Erwin, Senin (10/8).

Dukungan industri jasa keuangan mutlak diperlukan, tidak hanya financing tapi juga pendampingan agar usaha UMKM dapat tumbuh sehat. Ketiga hal tersebut dapat menjadi modal bagi UMKM untuk sustain dalam bisnis dan menembus pasar global.

“Bank Indonesia juga senantiasa melakukan fasilitasi agar UMKM dapat berkembang menjadi suatu usaha yang produktif dan bankable,” imbuh Erwin.

Seusai pembukaan, acara dilanjutkan dengan keynote speech Rosmaya Hadi selaku Deputi Gubernur Bank Indonesia. Dalam paparan, beliau menyampaikan bahwa terdapat blessing in disguise ditengah pandemi Covid-19 yang mengakselerasi adopsi teknologi digital dalam transaksi perekonomian. Adopsi teknologi digital secara luas telah dimanfaatkan customer maupun pelaku usaha (merchant) di berbagai sektor, termasuk UMKM.

Usaha yang dahulu mengandalkan transaksi offline “dipaksa” keadaan untuk beralih ke pemanfaatan platform e-commerce agar dapat menjangkau online customer. Hal ini turut didukung oleh berbagai kebijakan Pemerintah baik Pusat maupun Daerah yang berkepentingan dalam menjaga aktivitas perekonomian ditengah pembatasan yang dilakukan.

Webinar terbagi dalam 2 (dua) sesi diskusi interaktif yaitu Diskusi Pengembangan UMKM dan Diskusi Praktisi UMKM. Pada diskusi pertama, 3 (tiga) narasumber berkesempatan hadir menyampaikan kebijakan terkini UMKM oleh Budi Hanoto (Kepala Departemen Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen)
dan Tabrani (Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Banten).

Tak ketinggalan, praktisi e-commerce Andreas A. Pramaditya (Vice President Galeri Indonesia, Blibli.com) turut memberikan gambaran perkembangan UMKM di dunia digital.

Budi menegaskan komitmen Bank Indonesia sebagai institusi yang harus turut serta mendorong kemajuan UMKM ini. KKB 2020 menjadi salah satu bentuk nyata komitmen ini.

“Kami memberi wadah atau media kepada UMKM binaan kami pada khususnya, dan seluruh UMKM di wilayah Banten dan sekitarnya untuk mau mencoba inovasi apapun. Bisa dengan mengikuti KKB 2020 agar produknya bisa dipasarkan lebih luas lagi,” ucap Budi.

Masih di acara yang sama, perwakilan Pemprov Banten, Tabrani juga menjabarkan besarnya potensi pengembangan ekonomi Banten.

“Banten memiliki hampir 1 juta UMKM yang berhasil menyerap lebih dari
dua juta tenaga kerja,” kata Tabrani menjabarkan.

Tabrani menegaskan adaptasi dan inovasi dalam mengembangkan UMKM sangat penting. “Dalam era kenormalan baru, anjuran mengurangi aktivitas yang bersentuhan atau tatap muka langsung akan tetap diberlakukan. Online sudah pasti menjadi solusi paling efektif untuk tetap bisa menjalankan usaha.”

Ia juga menyebutkan tingginya jumlah UMKM yang terdampak pandemi saat ini. Hal ini tentu harus segera disikapi dengan kebijakan, edukasi, dan sosialisai untuk go digital dan membuat para UMKM ini kembali bangkit.

“Kemenangan tidak ditentukan oleh seberapa besar modal kita, tapi seberapa cepat kita berinovasi, berubah, bertransormasi dan beradaptasi,” ujarnya menambahkan.

Sementara itu, Andreas menilai masih banyak yang harus dilakukan guna mendorong UMKM mau menjalankan usahanya secara digital.

“Pandemi Covid-19, menyebabkan akselerasi transformasi digital.
Masyarakat menjadi pembelanja online sehingga pelaku UKM harus bisa berjualan online demi kelangsungan
bisnis,” ujar Andreas dalam pemaparannya, Senin (10/8) pagi.

Blibli.com, lanjut Andreas, berusaha memberi ruang seluas-luasnya untuk UMKM bisa mengembangkan bisnisnya melalui platform ini.

“Galeri Indonesia didedikasikan khusus untuk produk-produk UMKM Indonesia dari produsen local dan menjadi kanal untuk para Creativepreneur untuk memperbesar pasar produk mereka di pangsa Indonesia.”

Tak hanya high level discussion, acara hari ini juga diisi pelatihan online dengan menghadirkan praktisi dan pelaku UMKM yang terbukti sukses mempertahankan usahanya. Hadir tiga pembicara yaitu Yudha Setiawan dari www.lazizaa.com, Muh. Faqih Faturrachman SP (Daeng Faqih) pakar digital marketing, dan dari Asosiasi E-Commerce Indonesia, Rosihan.
Yudha telah berhasil membawa usahanya bertahan melewati guncangan terberat di awal pandemi hingga memasuki era new normal.

“Memfokuskan diri pada penjualan online membuat usaha ini tetap
bertahan saat ini,” kata Yudha.

Sementara yang juga sangat erat kaitannya dengan penjualan online adalah
bagaimana memperkenalkan produk yang dijual kepada konsumennya. Dalam dunia online, hal ini sering disebut digital marketing.

Daeng Faqih menjelaskan apa saja hal penting yang harus dilakukan dalam digital marketing agar sebuah produk bisa mendapat perhatian dari calon pembeli. “Ada trik yang harus diterapkan agar UMKM yang go digital bisa meraih catatan penjualan sesuai harapan,” ucapnya menjelaskan.

Pembicara ketiga, Rosihan juga menjabarkan hal menarik yang sepertinya belum banyak diketahui pelaku UMKM. E-commerce aggregator. Apa itu?

“E-commerce aggregator ini akan membantu pelaku UMKM menemukan solusi dari banyak kegiatan penjualan online,” kata Rosihan. “Di awal berjualan online, mungkin banyak pelaku UMKM yang belum menguasai ‘medan’, atau mereka masih ingin fokus pada produksi. E-commerce aggregator bisa membantu,” katanya.

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal dalam keseharian masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang dikenal tahan banting saat krisis
moneter, menjadi korban paling terdampak secara ekonomi. Di sisi lain, perkembangan teknologi digital saat ini juga sudah sangat menjanjikan. Termasuk bagi para pelaku UMKM.

Potensi yang ditawarkan sektor digital kepada UMKM sangatlah besar. Lihat saja pengguna internet aktif di Indonesia yang terus meningkat, mencapai lebih dari 180 juta jiwa. Bahkan, Indonesia masuk dalam 20 negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia.

“Jumlah yang sangat besar sebagai pasar potensial untuk ragam produk yang ditawarkan UMKM. Ini waktunya semua bergotong royong membantu UMKM sebagai salah satu kekuatan ekonomi Indonesia,” pungkas Rosihan. (*/Raden)