Kisah Sukses Mak Utung, Penjual Nasi Uduk Legendaris di Pandeglang

193
Ummu Khulsum (Mak Utung) Pemilik Nasi Uduk Mak Utung di Majasari Pandeglang, sudah berjualan lebih dari 30 tahun. (FOTO/RADEN/EKBISBANTEN.COM)

PANDEGLANG, EKBISBANTEN.COM – Bagi penggemar kuliner nasi uduk, nama Mak Utung atau Ummu Khulsum (63) di Kabupaten Pandegalng sudah tak asing ditelinga pelanggannya.

Pemilik kuliner nasi uduk yang beralamat di RT/01 RW/ 01, Kelurahan Saruni, Kecamatan Majasari atau Belakang SD Saruni 01 ini sudah melegenda lebih dari 30 tahun.

Ia mengatakan, dalam sehari omset penjualan nasi uduk miliknya bisa mencapai Rp6 juta dengan produksi nasi uduk sebanyak 50 liter.

“Biasanya kalau lagi ramai dan ada pesanan bisa mencapai Rp6 juta sehari, kalau lagi sepi paling diangka Rp4-5 juta,” kata Mak Utung kepada ekbisbanten.com, Minggu (29/5).

Mak Utung menceritakan, awal mula dirinya berjualan nasi uduk hanya menjual 2-5 liter dalam satu hari. Itupun katanya, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

“Dulu mah cuma dua sampai lima liter sehari, itupun masih minjam uang kesana-kesini untuk nutupin modal, karena ya memang cukup buat makan saja gak cukup buat ini dan itu,” ujarnya.

Dengan semangatnya untuk memenuhi kebutuhan hidup, ibu dari enam orang anak ini mengatakan, sudah banyak perubahan yang dialami dalam kehidupannya.

“Dulu mah rumah bilik, suami juga kerja serabutan pokonya banyak pahitnya kalau diceritain. Sekarang alhamdulillah rumah udah baik, anak-anak bisa sekolah sampai sarjana, bisa kebeli motor, mobil juga,” terang Mak Utung.

Saat ini, nasi uduk milik Mak Utung dikelola penuh oleh keluarganya. Sebayak 15 orang anggota keluarga Mak Utung hidup dari hasil berjualan nasi uduk.

“Sekarang, alhamdulillah udah punya cabang tiga, yang pertama di Kelurahan Majasari, Kedua di Pertigaan Mengger dan ketiga di Kadulisung depan SMK Darma Nusantara Pandeglang. Semua keluarga ya hidup dari sini makan gaji dari jualan nasi uduk,” katanya.

Nama Mak Utung juga, berawal dari sebutan para pelanggannya yang sering membeli nasi uduk malam hari usai nongkrong bareng.

“Nama saya kan Ummu Khulsum, kok jadi Mak Utung, awalnya karena banyak yang suka balapan motor malam-malam, jadi yang menang suka beli 30-40 bungkus, dari situ saya dipanggil Mak Utung, nama hoki kalau kata pelanggan saya mah,” bebernya.

Mak Utung berharap, usahanya ini bisa terus berjalan lancar, dan bisa turun temurun dilanjutkan ke genarasi selanjutnya. Namun, ia tidak memaksakan apabila penerusnya ingin memilih pekerjaan yang berbeda.

“Saya sendiri membebaskan, kepada anak-anak saya, yang mau kerja selain di nasi uduk ya silahkan, asalakan punya kehidupan yang lebih baik lagi,” papar Mak Utung.

Nasi uduk Mak Utung, buka mulai pukul 18.00-06.00 WIB pagi. Untuk harga jual nasi uduknya pun bervariasi mulai dari Rp10 ribu sampai Rp20 ribu.

“Jadi dibagi dua shift kerja. Jam 18.00-24.00 dan jam 24.00 sampai jam 06.00 WIb pagi. Kalau paket Rp10 ribu itu dapet nasi uduk, gorengan sama telur. Banyak juga menu lauk lainya, seperti ayam, rendang, sate hingga semur jengkol,” tutup Mak Utung. ***