Kisah Pramugari Kena PHK karena Korona, Dulu Nangis Kini Usaha Jualan Brownies

20
Foto: Istimewa

EKBISBANTEN.COM – Sebelum pandemi Corona, Josephine wulandari aktif bekerja sebagai pramugari sebuah maskapai Indonesia. Namun kini dia harus menelan pil pahit karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Ia pun memutar otak agar bisa bertahan di tengah pandemi.

Wanita yang biasa disapa Jojo ini menceritakan awal kariernya bekerja sebagai pramugari. Dia mulai menjalani training pramugari pada 2017. Setelah setahun training, dia terjun langsung menjadi pramugari sebenarnya.

“Banyak pengalaman yang benar-benar bermakna banget buat aku. Awal-awal kerja aku ngerasa cepet capek dan mikir ‘ternyata jadi pramugari nggak seenak yang aku bayangin’ terlepas dari kita jalan-jalan gratis,” kata Jojo saat dihubungi oleh Wolipop, Jumat (25/12/2020).

Jojo mengungkapkan hal paling menyenangkan dari pekerjaannya sebagai pramugari adalah saat setiap hari bertemu dan bekerja dengan tim serta wajah baru. Sebagai seorang pramugari, dia juga harus selalu tersenyum di depan penumpang meskipun fisik dan hatinya sedang lelah.

Kini pengalaman sebagai pramugari itu tinggal kenangan buat Jojo. Pekerjaan yang selama ini dijalaninya terpaksa terhenti karena pandemi COVID-19 melanda di seluruh dunia. Perusahaannya mengambil kebijakan untuk memberhentikan karyawan kontrak.

“Sayangnya, aku harus stop menjalani itu semua di tahun 2020 ini. Perusahaan tempat aku kerja tiba-tiba memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrakku dan seluruh angkatan. Dikarenakan puncaknya pandemi di akhir bulan Maret kemarin. Kami seangkatan cuma bisa bengong, shock, nahan nangis, walau pun sudah tahu akan terjadi kayak gini karena sebelum diputus kontrak. Sudah mulai banyak penerbangan yang di cancel karena satu dan lain hal,” kenangnya panjang lebar.

Setelah terkena PHK sebagai pramugari, Jojo mengaku sempat hilang arah dan stres. Apalagi melamar pekerjaan lain di berbagai perusahaan yang sudah dilakukannya belum membuahkan hasil. Dia sampai harus berkonsultasi dengan psikiater untuk mengatasi kegundahannya.

“During first pandemic, yang aku lakuin dua bulan pertama cuma bengong, nangis, nggak tahu mau ngapain. Segitu susahnya untuk cari kerja sampai aku cuma mikir ‘digaji kecil nggak papa deh asal aku kerja dan nggak diam di rumah doing nothing.’ Since aku juga ada tunggakan yang harus dibayar dan itu tetap berjalan. Sampai akhirnya aku ke psikiater dan di situ mikir juga kalau ke dokter pun butuh banyak biaya juga, jadi serba salah dan malah makin stres mikirinnya,” ujar Jojo.

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengaku mulai tersadar untuk bangkit kembali setelah pertemuan dengan psikiater tersebut. Dia berpikir tidak mungkin dia terus-menerus stres jika ingin hidupnya kembali tertata.

“Sampai turning point aku adalah ketika aku mikir ‘Fix kalau gini terus aku bisa gila selama bertahun-tahun.’ Tapi di situ pun juga masih nggak bikin aku bergerak karena totally bingung harus ngapain lagi,” katanya.

Hingga akhirnya peluang Jojo untuk bangkit terbuka saat bulan Ramadhan tiba. Dia menngirimi teman dan saudarnya brownies buatannya. Dan beberapa dari mereka ada yang menyarankannya untuk menjual brownies tersebut karena rasanya enak.

“Di situ aku mulai coba, walaupun aku benar-benar mikir keras kayak ‘Nggak mungkin ada yang mau, pasti nggak enak, pasti mahal, pasti pada nggak suka, pasti bohong bilang enak dan lainnya. Tapi aku mikir kalau kebanyakan mikir ya nggak gerak-gerak, jadi jalanin dulu deh,” kata Jojo penuh semangat.

Wanita yang lahir di Jakarta, 11 Mei ini pun mendapatkan dukungan dari sahabat-sahabatnya untuk mencoba berjualan brownies. Mereka membantu memperisiapkan brand kue brownies miliknya.

“Lucky me, dibantu sahabat-sahabatku mulai dari masarin di social media mereka, sampai aku dibantuin bikin brand beserta desainnya, fotonya, gratis, cuma dibayar pake brownies sekotak karena tahu aku nggak punya uang sama sekali untuk bayar,” ucapnya haru.

Jojo kini memasarkan browniesnya di Instagram @chocoloca.id. Ia menjual mulai dari brownies ukuran kecil sampai ukuran besar. Dan beragam varian rasa, mulai dari almond, chocochip, cheese, salted sampe biscoff. Harganya pun variatif untuk brownies ukuran kecil Rp 85 ribu, besar Rp 135 ribu, dan mix Rp 145 ribu.

“Brownies aku dibandingin dari yang lain adalah homemade brownies, literally. Bermodalkan tenaga dan oven and voila! Dan aku nggak pelit untuk topping, pasti selalu aku banyakin, karena aku sendiri suka makan dan suka komentar soal makanannya, jadi aku nggak mau pelit untuk ngasih topping,” kata Jojo yang kini selain brownies juga menjual choco flakes dan earl grey milk tea.

Selain lewat Instagram @chocoloca.id, Jojo memasarkan brownies buatannya di ecommerce. Perlahan dia merasakan buah dari usahanya bangkit dari keterpurukan setelah kena PHK sebagai pramugari.

“Puji Tuhan, walaupun nggak sebesar yang aku harapkan, tapi sudah banyak yang pesan. Biasanya untuk hampers dan sekarang aku jadi pemasok homemade brownies di beberapa toko kopi di Jakarta dan Tangerang Selatan,” ujarnya bahagia.
Sampai saat ini pun Jojo mengaku masih menata keuangannya pasca kena PHK sebagai pramugari. Uang dari hasil jualan brownies masih harus diputarnya lagi.

“Nggak boleh aku pakai untuk bayar tunggakan yang harus aku selesaikan di akhir 2021 nanti. Aku cuma bermodalkan keluarga dan kerabat-kerabat terbaik yang selalu support aku gimana pun kondisinya dan nggak pernah capek di saat aku lagi capek-capeknya,” ucapnya penuh syukur. (*/Raden)

Sumber: Walipop