SERANG, EKBISBANTEN.COM – PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) membukukan rugi bersih tahun berjalan sebesar Rp 101,667 miliar pada semester I/2021.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Banten per 30 Juni 2021, nilai rugi bersih yang dialami bank dengan kode saham BEKS meningkat 1,7 persen atau Rp 1,684 milar dari periode yang sama, senilai Rp 99,983 miliar.
Selain itu, BUMD milik Pemprov Banten itu juga mencatatkan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) negatif 39,9 persen. Dari periode sebelumnya Rp 30,986 miliar menjadi 18,614 miliar year on year (yoy). Secara prorata pendapatan usaha (NII) BEKS hanya dicapai rata-rata sebesar Rp 3,102 miliar per bulan.
Sedangkan, beban operasional selain bunga per bulan Juni 2021 sebesar Rp 161,364 Miliar atau rata-rata Rp 26,894 miliar per bulan.
Dengan kinerja buruk itu, pendapatan bunga bersih BEKS tidak mampu mengcover beban operasionalnya sehingga laba rugi operasional Bank Banten per 30 Juni 2021 minus Rp 129,6 Miliar.
Dengan memindahkan seluruh kredit ASN Provinsi Banten, maka pendapatan bunga bersih akan mencapai Rp 80 miliar dalam satu tahun dan belum mampu mengcover biaya operasional Bank Banten dalam 1 tahun yang diperkirakan sebesar Rp 322,7 miliar.
Selain itu, hingga 30 Juni 2021 kinerja penyaluran kredit yang diberikan Bank Banten juga anjlok sebesar Rp 1,32 triliun dari Rp 3,789 triliun menjadi Rp 2,47 triliun. Kemudian, CKPN kredit BEKS juga turun sebesar Rp 361,2 miliar, dari Rp 821,6 miliar menjadi Rp 460,4 miliar.
Penurunan CKPN kredit Bank Banten dikarenakan perseroan melakukan hapus buku kredit bermasalah yang sumbernya berasal dari setoran modal Pemerintah Provinsi Banten.
Selanjutnya dari sisi tabungan, hingga Juni 2021 turun sebesar Rp 34,9 miliar year to date, dari Rp 315,9 miliar menjadi Rp 280,9 miliar. Kemudian, dana deposito turun sebesar Rp 181,2 miliar, dari Rp 1,99 triliun menjadi Rp 1,81 triliun.
Penurunan tabungan dan deposito dikarenakan nasabah diluar pemda mulai melakukan penarikan setelah Pemprov Banten menyimpan RKUD nya di Bank Banten.
Namun dari sisi Giro, terdapat kenaikan cukup siginifikan 338,8 persen dari Rp 280 miliar menjadi Rp 1,228 triliun. Kenaikan giro saat ini karena Bank Banten telah mengelola RKUD Pemerintah Provinsi Banten.
Sementara itu, Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan dan Hukum Bank Banten David Aryanto saat dikonfirmasi Ekbisbanten.com pada Jumat (13/8) malam membenarkan perseroan mengalami rugi bersih per 30 Juni 2021.
“Seperti kita ketahui kerugian saat ini masih merupakan pengelolaan penyelesaian manajemen Bank Banten yang baru dilantik pada maret 2021. Alhamdulillah manajemen baru telah bergerak menuju lebih baik, salah satunya menyelesaian kredit-kredit bermasalah serta kembalinya RKUD provinsi dikelola Bank Banten, dan mulai bulan Juni kerugian kian menurun. Insya Allah, manajemen yg saat ini menargetkan laba di akhir tahun 2021. Mohon doa dan dukungannya,” kata David Aryanto.
Seperti diketahui, Bank Banten saat ini tengah menjajaki kerjasama pengelolaan rekening kas umum daerah (RKUD) dengan sejumlah kabupaten/kota di Banten.
“Untuk menyakinkan 8 kabupaten dan kota, Bank Banten tengah intens melakukan pendekatan dan menyampaikan berbagai strategi bisnis. Sekaligus memaparkan bahwa Bank Banten telah sehat dengan menjalankan Good Corporate Governance, bersama dengan kepatuhan serta manajemen risiko yang Insya Allah akan mengembalikan citra perusahaan,” katanya.
“Bank Banten saat ini juga terus berbenah sembari berupaya melakukan digitalisasi perbankan. Kami saat ini juga sedang banyak mendengarkan masukan terkait produk yang sesuai kebutuhan di 8 kabupaten kota, sehingga kehadiran Bank Banten bisa memberikan solusi keuangan dan pelayanan terbaik bagi segenap masyarakat Banten,” pungkasnya. (ismet)
]]>