Kerugian Bank Banten Membengkak, Pemprov Banten: Wajar Saja

88
Kepala Biro Administrasi Pembangunan dan Perekonomian Setda Provinsi Banten Ahmad Syaukani
Kepala Biro Administrasi Pembangunan dan Perekonomian Setda Provinsi Banten Ahmad Syaukani. (Foto: Ismatullah / Ekbisbanten.com)

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Pemprov Banten menyebut kerugian Bank Banten yang membengkak menjadi Rp145,7 miliar pada kurtal III/2021 dinilai wajar karena masih mewarisi kerugian dari bank sebelumnya.

“Ini kan (Bank Banten) berproses tidak serta merta (Berkinerja bagus-red). Semua orang (tahu) mereka juga sedang membenahi dan lain sebagainya. (Kerugian) Itu kan masih ada tarikan dari kerugian yang dahulu-dahulu,” kata Kepala Biro Administrasi Pembangunan dan Perekonomian Setda Provinsi Banten Ahmad Syaukani saat ditemui wartawan di Hotel Lynn, Kota Serang, Senin (1/11).

“Sehingga dia (Bank Banten) harus menutupi yang kemarin-kemarin. Jadi wajar saja (masih rugi-red). Tapi kan selama itu masih on the track dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih no problem. Saya kira tidak ada masalah,” sambung Ahmad Syaukani.

BACA JUGA: Rugi Bank Banten Naik Jadi Rp145,7 Miliar di Kuartal III/2021

Untuk itu, Plt. Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Provinsi Banten ini menyarankan, Bank Banten terus melakukan efisiensi dan diversifikasi beberapa bisnis.

“Efisiensi ya. Memang kita harus mendiversifikasi produk-produk mereka (Bank Banten) supaya kita mendorong (mereka) cepat menjadi bank digital. Kalau pakai bank digital, operasional menurun karena memakainya teknologi. Kemudian pendapatan jasa perbankannya menjadi naik, karena sekali transkasi dapat sekian rupiah. Kan gitu kan. Makanya kita akan terus dorong,” katanya.

Berdasarkan laporan keuangan Bank Banten kuartal III/2021 unaudited, perusahaan plat merah tersebut membukukan rugi periode berjalan setelah pajak bersih sebesar Rp145,70 miliar.

Angka kerugian emiten yang dulu bernama Bank Pundi ini meningkat dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp137,9 miliar. Pendapatan bunga bersih tumbuh 13,15 persen secara tahunan (yoy) menjadi sebesar Rp41,71 miliar.

Selain itu, pendapatan operasional selain bunga meningkat 11,36 persen secara yoy menjadi Rp24,98 miliar.

Namun, beban operasional selain bunga perseroan membengkak 27 persen menjadi Rp253,14 miliar. Sehingga rugi operasional Bank Banten naik 33,55 persen yoy menjadi Rp186,44 miliar.

Sedangkan, dari sisi penyaluran kredit, Bank Banten mencatat kredit yang disalurkan turun 16,6 persen secara year to date (ytd) menjadi Rp3,15 triliun.

Sementara penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) Bank Banten mengalami peningkatan signifikan 44 persen yoy menjadi Rp3,71 triliun. Pertumbuhan DPK tersebut ditopang dari kenaikan dana murah (CASA), sehingga mendorong rasio CASA dari 23 persen pada akhir Desember 2020 menjadi 44,6 persen per 30 September 2021.

Selanjutnya, Bank Banten mencatatkan total aset per 30 September 2021 sebesar Rp7,21 triliun, meningkat dari posisi akhir Desember 2021 sebesar Rp5,33 triliun. Ekuitas perseroan per September 2021 tercatat naik sebesar 2,20 persen menjadi Rp1,39 triliun dari Rp1,36 triliun di tahun 2020.**