Kasus Kekerasan di Kabupaten Serang Kian Menghawatirkan

24
Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah saat memberikan keterangan kepada wartawan di Pendopo Bupati Serang, Selasa (23/3). (FOTO: ISMATULLAH / EKBISBANTEN.COM)

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah menyebut kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Serang kian menghwatirkan.

Hal itu diungkapkan Tatu disela-sela menerima kunjunga putri Wakil Presiden Ma’ruf Amin Siti Ma’rifah di Pendopo Bupati Serang, Selasa (23/3).

Kedatangan Ketua Komisi Perempuan Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat itu dalam rangka mendiskusikan persoalan ketahanan keluarga dan pemberdayaan perempuan di Kabupaten Serang.

“Menurut saya sudah menghawatirkan karena di Kabupaten Serang ini pada 2020 kemarin sudah diatas 100 kasus loh. Ini baru Maret 2020 sudah 20 kasus,” kata Tatu kepada wartawan.

Dengan jumlah kasus tersebut Tatu bilang merupakan bukan perkara enteng. Sehingga perlu perhatian besar dari berbagai pihak.

“Ini sudah menghawatirkan dan tidak bisa dianggap enteng. Ini harus kerja keras semua komponen masyarakat. Apalagi persoalannya terhadap perempuan dan anak,” katanya.

“Berarti dunia pendidikan (perannya) bagaiman? pendidikan agama bagaimana? dan peran lainnya bagaiaman? jadi ini harus dievaluasi kembali bareng-bareng,” sambung Tatu.

Tatu menjelaskan, selain faktor ekonomi, tingginya kekerasan terhadap perempuan dan anak juga terjadi karena minimnya pendidikan, khususnya pendidikan agama.

“Saya sering menyampaikan, kalau hanya dari kami, persoalan ini akan sulit. Karena kita terbatas. Jumlah personal di Pemda berapa orang sih? Bisa dihitung jumlahnya,” ucap tatu.

Untuk itu, Ketua DPD Partai Golkar Banten ini mengajak, seluruh elemen masyarakat memaksimalkan perannya masing-masing mencegah terjadinya kasus kekeras terhadap anak dan perempuan di wilayahnya.

“Karena kelihatannya peran (stake holder) itu masih terpisah-pisah atau parsial. Nah ini, (tentu) harus duduk bersama, mau programnya seperti apa. Misalnya, pengajian yang saya lihat sekarang ini di majelis taklim. Dan di majelis taklim itu yang hadir pasti yang punya niat dan ingin belajar agama. Dan kebanyakan ibu-ibu atau bapak-bapak yang sudah sepuh. Tapi ibu-ibu majelis masih di luar gak mau masuk. katanya. Padahal mereka punya peran yang sangat besar pegang anak balita, serta Mereka masih dalam usia subur dan hamil,” katanya,” katanya.

Sementara itu, Siti Ma’rifah mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Banten bahkan nasioan merupakan persoalan yang kompleks, sehingga dibutuhkan penanganan yang ekstra oleh berbagai pihak.

“Perosalan ini harus diselesaikan dari hulu ke hilir. Termasuk persoalan kekerasan dalam rumah tangga. Karena selain faktor ekonomi dan sosial, juga masyarakat yang paternalistik. Untuk itu perlu dilakukan terus sosialisasi dan literasi,” kata Siti Ma’rifah

Dan literasi ini tambah dia harus bergandengan tangan antara pemerintah, ulama dan masyarakat. Baik melalui kegiatan dakwah maupun pengembangan ekonomi masyarakat.

“Sehingga persoalan-persoalan ini dapat ditekan. Itu untuk kekerasan rumah tangga. Kalau terkait kekerasan seksual tentu saja harus juga melibatkan para ulama, tokoh masyarakat, dan pendidik (guru). Ini penting sekali untuk memberikan literasi dan membuat kegiatan-kegiatan positif dan konstruktif yang melibatkan anak muda,” pungkasnya. (ismet)