Jumlah Kantor Perbankan di Banten Utara dan Selatan Masih Timpang

195
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erry P. Suryanto. (Foto: Tangkap Layar Zoom Meeting BI Banten)

Kantor Perbankan di Banten Utara dan Selatan Masih Timpang

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Bank Indonesia mendorong lembaga perbankan di Banten terus memperluas layanan keungan perbankan hingga ke poloksok daerah.

Pasalnya, penyebaran infrastruktur kantor perbankan di Wilayah Banten Selatan tertinggal jauh atau masih mengalami ketimpangan dengan Wilayah Banten Utara. Sehingga masyarakat Banten Selatan sulit mengakses lembaga keuangan perbankan.

Hal itu terkuat pada acara Forum Sistem Pembayaran Banten bertajuk “Kesiapan Operasional Perbankan Dalam Menghadapi Era Digital” yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten secara virtual, Sabtu (14/11).

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erry P. Suryanto menyebut, jumlah lembaga bank di Provinsi Banten ada 29 bank dengan jumlah kantor sampai 1.192 kantor.

Rinciannya, bank pemerintah ada 533 kantor bank, bank pembangunan daerah (BPBD) ada 107 kantor bank, bank swasta nasional ada 533 dan bank asing/campuran ada 19 kantor bank.

Namun dari jumlah tersebut, keberadaan kantor fisik bank di Banten masih di dominasi ada di wilayah Banten Utara, yakni wilayah Tangerang Raya, Serang dan Cilegon.

“Kalau kita lihat penyebarannya masih belum merata (timpang). Karena sebagian besar dari perbankan masih berada area Tangerang Raya, yaitu Kabupaten Tangerang, Tangerang Selata dan Kota Cilegon. Selain itu banyak di Serang, dan Kota Cilegon,” ujar Erry P. Suryanto.

Berdasarkan data laporan bulanan bank umum (LBU) dan data Badan Pusat Statistik (BPS), dengan memiliki luas wilayah 5.984 kilometer persegi, wilayah Banten Selatan yang meliputi Kabupaten dan Kabupaten Lebak hanya terdapat 63 kantor bank.

Sedangkan, untuk di wilayah Banten Utara yang luasnya 3.352 kilometer persegi atau lebih kecil kecil dari Banten Selatan terdapat 607 kantor cabang bank yang beroperasional di daerah tersebut.

“Untuk daerah Lebak dan Pandeglang itu meskipun wilayahnya luas sekali ternyata perbankannya hanya sedikit yang beroperasi disana. Ini juga jadi perbandingan antara luas wilayah, jumlah penduduk dan pembukaan rekening menjadi kurang ideal,” katanya.

“Mungkin ini tantangan buat kita semua bagaimana system pembayaran secara tunia itu diterapkan melalui jaringan kantor perbankan dengan kondisi wilayah perbankan yang seprti ini. Jadi kantor perbankan itu sebagian besar ada di wilayah Banten Utara,” tambah Erry.

Erry berharap, dengan adanya potensi bisnis tersebut, lembaga perbakan dapat mengambil peluang tersebut dengan menambah jaringan kantor di Pandeglang dan Lebak.

“Jadi dengan melihat kondisi ini merupakan potensi atau oportuniti buat teman-teman perbankan dalam rangka mengembangkan kantor-kantornya disana kalau memang bersedia. Mungkin teman-teman (bank) sudah pasti lihat dari prospek bisnisnya. Ini kaitanya apa saya sampaikan seperti ini karena ada beberapa tantangan dengan kondisi seperti ini kita dalam rangka menerapkan system pembayaran tunai maupun non tunai di Provinsi Banten,”

Sementara itu Erry melanjutkan, jika dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia, penetrasi pasar masyarakat terhadap lembaga keungan di Provinsi Banten berada pasa posisi 14.

“Untuk penetrasi pasar jumlah rekening dibandingkan dengan jumlah penduduk itu kita (Banten) ada pada posisi 14 atau 0,89. kemudian infrastruktur atau perbandingan jumlah kantor bank dengan jumlah penduduk kita berada pada posisi 9 atau 0,05,” tutup Erry. (Raden)