Harga Komoditas di Kota Serang Melambung Tinggi

17

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Menjelang perayaan tahun baru 2022 beberpa harga komoditas di Kota Serang mengalami kenaikan yang signifikan.

Kenaikan harga komoditas yang tinggi itu, dikarenakan suplai atau ketersediaan barang terus berkurang sementara permintaan dipasar tinggi.

Salah satu komoditas yang mengalami kenaikan yang signifikan yakni telur ayam ras mencapai Rp32 ribu perkilo. Padahal, dihari biasa telor ayam ras paling tinggi di angka Rp25 ribu.

Kepala Dinas Koperasai Usaha Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (Dinkop UKM Perindag) Kota Serang Wasis Dewanto mengatakan, beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga signifikan.

“Jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) ini, memang ada kenaikan beberapa komoditas,” katanya kepada wartawan saat ditemui di kantornya, Selasa (28/12).

Kata dia, komoditas yang mengalami kenaikan signifikan pada telor ayam ras sebesar 7 persen atau mencapai Rp32 ribu perkilogram. Padahal harga normal telor ayam ras paling tinggi biasanya mencapai Rp25 ribu.

“Bahkan biasanya Rp20 ribu, kemarin naik Rp26 ribu, dan sekarang naik lagi ke Rp32 ribu perkilogram,” ujarnya.

Sementara itu, kenaikan juga terjadi pada telor ayam boiler mencapai Rp39 ribu, dari harga normal hanya Rp32 ribu perkilogram.

Sementara itu, harga minyak goreng juga mengalami kenaikan hingga Rp18 ribu perliternya.

“Adalagi minyak goreng curah yang naik ke Rp18 ribu perliternya. Ini yang menjadi keluhan para ibu-ibu di rumah,” terangnya.

Sementara itu, harga cabai rawit merah tembus Rp110 ribu per kilonya. Lanjutnya, harga cabai rawit merah dihari biasanya kisaran Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilonya. Sementara harga cabai merah keriting tembus Rp40 ribu per kilonya.

Harga tersebut didapatkan atas hasil pemantauan di sejumlah pasar yang ada di Kota Serang, seperti Pasar Induk Rau (PIR), Kepandean dan Pasar Lama.

Tingginya harga beberapa komoditas, dikarenakan adanya permintaan yang tinggi menjelang tahun baru, sementara ketersediaannya terus mengalami pengurangan.

“Biasa sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, dan memang saat ini permintaannya tinggi,” jelasnya.***