Ekspor Tokek Kering Jadi Ide Bisnis yang Menguntungkan Selama Pandemi

89
Foto: @buyertokek.oficial

EKBISBANTEN.COM – Di tengah kesulitan ekonomi imbas pandemi, aktivitas jual-beli tokek kering seperti di Surabaya tidak terganggu. Namun, seiring moncernya bisnis ini, populasi tokek mulai terancam.

Di situs resminya, Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya mengumumkan telah melakukan sertifikasi 2,9 ton tokek kering yang akan dikirim ke Tiongkok, 25 November kemarin.

Pemeriksaan fisik dan dokumen oleh BBKP Surabaya di Tanjung Perak bermaksud menjamin produk ekspor tersebut memenuhi syarat untuk mendapatkan Sertifikat Sanitasi Produk Hewan sebelum dikirim. Sesuai namanya, tokek kering ekspor dipaketin dalam keadaan kering, badan terentang, dan ditusuk kayu macam sate, lalu dimasukkan ke kotak-kotak besar.

Kepala BBKP Surabaya Musyaffak Fauzi menyampaikan selama Januari-November 2020, pihaknya sudah sepuluh kali mengekspor tokek kering ke Tiongkok, Taiwan, dan Hong Kong. Di website-nya, BBKP Surabaya mengklaim total ekspor bihu, sebutan lain bahasa Mandarin buat tokek, mencapai 3,913 ton dari Jawa Timur.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan, bihu kering tersebut dokumennya lengkap dan memenuhi syarat sehingga Sertifikat Sanitasi Produk Hewan [KH 12] dapat diterbitkan. Selain itu, berdasarkan data Otomasi Karantina Pertanian, bihu kering yang diekspor sepanjang Januari-November mencapai 3.913 ton dari beberapa perusahaan di Jawa Timur,” ujar Musyaffak dilansir Antaranews. 

Sayangnya, angka ekspor tokek versi pemerintah pusat tidak bisa ditemukan di pangkalan data Kementan.
Tiongkok jadi penerima utama suplai tokek kering Indonesia sebab hewan ini dipercaya dapat mengobati masuk angin, asma, penyakit kulit, bahkan tumor dan kanker. Pada 2009, perburuan tokek meningkat seiring rumor yang menyebut tokek bisa menyembuhkan HIV.

Di tahun yang sama, pengusaha tokek di Probolinggo, Jawa Timur, mengaku kewalahan memenuhi permintaan sejuta ekor per tahun dari importir Tiongkok.

“Tahun ini, kami baru bisa mengekspor 100 ribu tokek kering. Padahal, importir sanggup menampung sejuta ekor per tahun. Importir sebenarnya lebih memilih tokek kering dari Indonesia [dibanding Thailand, Kamboja, dan Vietnam] karena harganya lebih murah,” kata pengusaha tokek kering Didik Prabudi kepada Kompas, 2009 silam.

Menurut Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) 2019, tokek masuk satwa kategori apendiks II. Artinya, status tokek belum terancam punah, namun bisa jadi terancam apabila perdagangan terus berlanjut tanpa pengaturan. Untuk mengantisipasinya, diperlukan pembatasan kuota terhadap panen tokek.

“Diperkirakan lebih dari satu juta tokek diperdagangkan setiap tahun. Meskipun belum diklasifikasikan sebagai terancam, ada indikasi bahwa perdagangan tokek sebagai obat tradisional dan hewan peliharaan telah menyebabkan penurunan populasi. Dengan penerapan yang efektif dari daftar terbaru ini, tokek akan mendapat manfaat dari peningkatan pemantauan dan regulasi di perdagangan,” ujar anggota WWF Christiaan van der Hoeven.

Pada 2018, Indonesia menerapkan kuota perdagangan tokek tahunan dalam Keputusan Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem yang menentukan kuota penangkapan tokek pada 2018 adalah 25.250 ekor, sedangkan kuota ekspor 22.725 ekor. Indonesia sendiri adalah negara anggota CITES yang terikat pada peraturan anggota. (*/Raden/vice)