Dompet Dhuafa Ikut Terjun Tangani Pandemi

9
Dok. Dompet Duafa

JAKARTA, EKBISBANTEN.COM – Dompet Dhuafa sudah sejak awal pandemi berkontribusi dalam ikut mengendalikan upaya-upaya penyebaran Covid-19 di Indonesia, peran dari Dompet Dhuafa ini hampir meliputi semua aspek, dari mulai edukasi, promotif, preventif, kemudian kuratif.

Direktur Rumah Sakit Lancang Kuning Dompet Dhuafa dr. Pradipta Suarsyaf yang bertindak sebagai moderator membuka webinar kali ini, Selasa, 13 Juli 2021.
 
Webinar yang diadakan pada (Selasa, 13/07/2021) dengan judul Kenali Varian Baru dan Pahami Cara Isolasi Mandiri di Rumah ini digelar secara daring oleh Dompet Dhuafa dan menghadirkan Laura Navinka Yamani, dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga dan dr. Ratna Kusumawati.

Para peserta yang hadir dari kalangan umum kali ini mendapatkan penjelasan tentang bagaimana mengendalikan penyebaran dari Covid-19 dan proteksi serta kendali terhadap penyebaran varian baru Covid-19.
 
“Sejak kemunculan pandemi Covid-19, banyak para ahli kemudian meneliti terkait karakteristik dari virus Covid-19 itu seperti apa, kemudian melakukan upaya-upaya intervensi yang bisa dilakukan untuk mengendalikan penyebaran dari Covid-19 sehingga tidak menyebar secara meluas, jadi ada beberapa strategi untuk bisa mengendalikan untuk menangani penyebaran dari Covid-19, jadi yang pertama itu 3T, Testing, Tracking dan Treatment,” kata Laura.
 
Menurutnya situasi seperti sekarang kita memang serba sulit mengidentifikasi apakah dia pernah kontak dengan orang yang positif, kemudian apakah dia OTG (Orang Tanpa Gejala),

“Cara berikutnya karena kita tidak tahu kemudian penyebaran ini sampe seberapa jauh, apakah sudah dekat dengan lingkungan kita, maka kita perlu melakukan strategi pengendalian dari pandemi covid yaitu dengan menerapkan 5M, jadi 5M ini sebagai salah satu upaya juga yang bisa dilakukan untuk bisa mencegah sebagai bentuk upaya preventif, mencegah dari paparan atau kemungkinan terpapar dari Covid-19 dari seseorang yang berada di lingkungan kita, 5M ini terdiri dari memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas”.
 
Selain melakukan proteksi dan kendali terhadap penyebaran varian baru Covid-19, pemahaman tentang testing seperti PCR (Polymerase Chain Reaction), rapid test antigen, rapid test antibodi dan tes serologi dan bagaimana pemantauan isoman (isolasi mandiri) di rumah juga dipaparkan oleh dr. Ratna Kusumawati, M.Ked.Klin., SpMK pada seminar kali ini.
 
“Fungsi PCR dari CDC (Centers for Disease Control) dari WHO (World Health Organization) sampai sekarang goal standard diagnosa dari Covid-19, kemudian rapid test antigen sebetulnya untuk screening covid-19 berbiaya lebih lebih murah tapi tidak digunakan untuk diagnosa, rapid test antibodi dan tes serologi itu digunakan untuk survey antibodi dan penelitian epidemologi dan sekarang trapid test antibodi tidak digunakan dan tidak dianjurkan oleh WHO ataupun CDC untuk diagnostik covid, nah kalau serologi itu untuk menentukkan donor plasma konvalesens dan mendukung diagnosis covid-19 di kondisi tertentu,” tutur Ratna.
 
Ratna juga menjelaskan waktu untuk melakukan testing PCR, rapid test antigen dan rapid tes antibodi dan tes serologi.

“PCR bisa dilakukan kapan saja, semakin jauh dari waktu terinfeksi, resiko false negatifnya meningkat, rapid test antigen sebelum bergejala hingga 1-2 minggu pasca gejala, rapid tes antibodi dan tes serologi setelah 8-12 hari pasca gejala atau 15-20 hari pasca terinfeksi tapi ini tidak dianjurkan ya ini hanya untuk kebutuhan khusus saja,” katanya.
 
Ratna kemudian menjelaskan tentang isoman, hal-hal yang perlu diperhatikan saat isoman dan jika di rumah ada yang sedang isolasi mandiri.
 
“Yang perlu diperhatikan saat isoman, lokasi pasien saat isolasi mandiri, tempatkan pasien di ruangan sendiri dengan ventilasi baik, minimalisir berbagai ruangan dan pastikan ruang bersama berventilasi baik, batasi pergerakan pasien, pasien tidur berbeda kamar atau beda tempat tidur minimal jarak 1 meter, pasien menggunakan kamar mandi dan toilet terpisah bila memungkinkan, hindari kontak dengan barang yang terkontaminasi seperti alat makan-minum, sikat gigi, handuk, pakaian, kemudian memakai masker bila ada di sekitaran pasien. Pasien juga harus memakai masker bila ada di sekitar keluarga, pisahkan alat makana pasien, jangan gunakan masker dan sarung tangan bekas,” pungkas Ratna. (*/Raden)