Distan Banten Dorong Petani Manfaatkan Dana KUR

10
PANEN RAYA: Petani padi di Kampung Sidungkul, Desa Serdang, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang mengaku melakukan panen raya lebih awal. Tujuannya untuk mengurangi tingkat kerugian harga jual gabah kepada para pengepul atau pemilik gilingan, Sabtu (20/3). (FOTO: ISMATULLAH / EKBISBANTEN.COM)

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten mendorong para petani untuk mengoptimalkan pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian dalam upaya melanjutkan pemulihan ekonomi di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) karena pandemi Covid-19.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus Tauchid mengatakan, program Distan Banten di masa PPKM tetap konsisten melanjutkan pemulihan ekonomi rakyat dengan dukungan kegiatan pusat dalam peningkatan produksi tanaman pangan pokok.

“Salah satunya seperti padi Banten yang diberi nama Beras Kewal,” ucap Agus saat berdiskusi bersama Kelompok kerja (Pokja) wartawan harian dan elektronik Provinsi Banten, Kamis (8/9).

Selain itu, diakui Agus, upaya peningkatan produksi tanaman hortikultura dengan prioritas buah-buahan musiman, seperti melon dan pisang.

Dengan catatan, lanjut Agus, tetap mempertahankan pengembangan tanaman buah tahunan dan sayuran strategis seperti cabe serta bawang merah.

“Kami juga ada program peningkatan produksi tanaman perkebunan strategis seperti kopi, gula aren dan peningkatan produksi peternakan yang cepat panen. Seperti ternak unggas ayam dan itik untuk daging dan telor,” ujarnya.

Menurutnya, semua peningkatan produksi tersebut disinergikan dengan kelembagaan bisnis masyarakat dengan dukungan permodalan dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) bidang pertanian.

Agus juga mengklaim, Distan Banten terus mendorong dan membantu peningkatan produksi pertanian.

Bantuan yang diberikan tersebut mulai sistem pengairan, sarana dan prasarana pertanian, pembenihan hingga pasca panen.

Sedangkan alokasi KUR pertanian di Provinsi Banten akan disesuaikan dengan yang disampaikan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

“Jumlah total KUR pertanian se-Provinsi Banten Rp1,7 triliun, untuk permodalan produksi pertanian itu, maka para petani bisa memanfaatkan KUR. KUR jangan digunakan untuk keperluan lain. Nanti kebutuhan lain bisa dipenuhi dari hasil panennya,” tuturnya.

Terpisah, salah satu petani asal Banten, Yuliani, mengatakan bahwa beras Kewal produksi lokal Banten merupakan makanan Sultan.

“Ini kalau berbicara sejarah beras Kewal panganan petinggi, atau Sultan. Tapi kurang diminati oleh lokal, padahal mendunia,” kata Yuliani.

Yuli mengaku, keunggulan beras Kewal dari adalah pada masa panennya hanya empat bulan, yang biasanya umur padi mencapai 6 bulanl lebih.

“Kekurangannya benihnya susah diambil, apalagi untuk diperjualbelikan dari produksi luar,” ujar Yuliani.

Kendati demikian, Yuliani sebagai penggiat petani yang memang sejak kecil sudah bertani menginginkan kejelasan atau dukungan penuh dari pemerintah. Terutama pada Distan Banten.

“ini butuh legalitas, karena itu bisa dikembangkan. Juga masa observasi untuk beras Kewal bisa dipercepat menjadi 3 bulan dalam memanennya,” kata Yuliani.

Yuliani berpesan, dalam menanam juga harus bisa menjual, jangan sampai beras lokal Kewal Banten ini tak laku dipromosikan.

“Satu kata dari kami, harus Gintani (Gelem Ore Gelem Kudu Nani). Setahun empat kali panen target yang akan dicapai oleh kami,” ucap Yuliani. (Red)