Dampak Mobil Beralih Bahan Bakar dari Pertamax ke Pertalite

10
Drive and Shop
Kepala Toko Super Shop and Drive Cibeber, Kota Cilegon Muhammad Adib saat ditemui di tempat kerjanya. (FOTO: MAULANA/EKBISBANTEN.COM).

CILEGON, EKBISBANTEN.COM – Sejak diberlakukannya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax oleh pemerintah, tidak sedikit kendaraan atau mobil berbahan bakar RON 92 atau Pertamax yang beralih ke BBM jenis Pertalite. Apakah ada dampaknya?

Kepala Toko Super Shop and Drive Cibeber Muhammad Adib mengungkapkan, penggunaan BBM jenis Pertalite pada mobil berbahan bakar RON 92 dapat berpengaruh kepada kinerja mesin, baik dalam jangka pendek maupun panjang.

“Untuk efek jangka pendeknya paling nanti ketahuannya ketika servis Tune Up, biasanya itu tarikannya berat karena kerak di ruang bakar tumpukannya lebih banyak, soalnya pakai Pertalite residunya lebih banyak dibanding Pertamax,” katanya kepada Ekbisbanten.com, Senin (9/5/2022).

Adib juga mengakui, di jalanan dirinya banyak menemukan mobil yang berdasarkan rekomendasi pabriknya harus menggunakan Pertamax malah menggunakan Pertalite.

“Yang sudah pasti ketahuan dari bawaan kaya mobil Agya, Ayla walaupun mobilnya LCGC cuma yang saya perhatikan mobil itu di lapangan kayanya pakai Pertalite semua. Itu nanti jeleknya di ruang bakar cepat kotor dan sensor throttle bodynya lebih cepat kotor juga,” ujarnya.

Sementara untuk dampak jangka panjangnya, kata Adib, mesin mobil akan mengalami gangguan seperti ngelitik yang menyebabkan ketika menarik gas akan mengeluarkan suara yang tidak biasa.

“Ngelitik itu ketika tarik gas ada suara tik tik tik. Itu karena bensin yang belum waktunya terbakar tapi sudah terbakar duluan, makanya terjadi ngelitik,” ucapnya.

Oleh karena itu, ia menyarankan kepada para pengguna mobil berbahan bakar RON 92 untuk mentaati anjuran dan rekomendasi pabrik agar mobil tetap dalam performa terbaik.

“Kalau bisa sesuai rekomendasi pabrik, kalau minumnya Pertamax ya Pertamax, kalau Pertalite ya Pertalite. Tapi kalau Pertamax dirasa terlalu mahal ya Pertalite juga tidak apa-apa tapi harus sering-sering servis,” tutup Adib.*