Cerita Kepala Cabang FIF Pandeglang, Mengubah Kinerja Perusahaan Dari ‘Buntung’ Jadi ‘Untung’

44
Kepala Cabang Federal International Finance (FIF) Cabang Pandeglang Raden Yusuf Hutapea. Foto/ Raden/ Ekbisbanten.com

PANDEGLANG, EKBISBANTEN.COM – Raden Yusuf Hutapea sukses menahkodai
Federal International Finance (FIF) Cabang Pandeglang hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun. Hal itu ia buktikan dengan menorhekan kinerja perusahaan yang sempat ‘buntung’ menjadi untung.

Ia menceritakan, sebelumnya kinerja FIF Pandeglang pada tahun 2012 sempat cemerlang dengan bertengger di posisi kedelapan dari 10 besar top FIF seluruh Indonesia.

Namun, lambat laun kondisi internal yang tidak sehat menyebabkan kinerja perusahaan milik Astra Internasional Group tersebut mengalami penurunan bahkan terus menerus mengalami mines.

“Ternyata, yang membuat perusahaan ini bangkrut ada pada masalah internal. Ada oknum yang bermain (curang) juga,” kata Raden saat ditemui di Kantor FIF Cabang Pandeglang, Senin (20/9).

Pria kelahiran 25 September 1978 ini mulai ditempatkan di FIF Cabang Pandeglang pada tahun 2018 dengan posisi awal sebagai branch manager traning.

“Tapi baru dua hari diminta pergi (mutasi) ke Timika Papua oleh pusat. Kemudian setelah satu bulan pindah lagi ke Banjarmasin, setelah itu ke Soream dan akhirnya balik lagi ke Pandeglang,” kata anak keempat dari kelima bersaudara itu.

Kunci sukses Raden, dalam membangun tim FIF Cabang Pandeglang yang solid yakni, ia terus merangkul seluruh karyawan meskipun tidak memenuhi target penjualan.

“Karena saya sendiri merasakan bagaimana perjalanan awal saya menjadi seorang eksekutor saat berkarir di FIF, dan untuk menjadi seorang pemimpin, kita harus bersekutu dengan tim kita sendiri,” terang Raden.

Dengan semangat membangun tersebut, Raden bersama tim FIF Pandeglang terus membukukan profit diatas 100 persen tiap bulan. Bahkan, ia mampu mencapai target profit sebesar 100,24 persen dengan nilai Rp1,3 miliar pada Juni 2021.

Pria yang sarat akan pengalaman ini juga pernah menjajal berbagai jenis profesi demi mendapatkan pekerjaan. Bahkan ia sempat mengalami patah pinggang saat bekerja sebagai kuli bangunan.

“Hampir 1 tahun saya tidak bisa bergerak normal, dan setelah melakukan terapi baru saya bisa perlahan pulih. Saya juga pernah bekerja sebagai supir angkot, satpam, tukang parkir, hingga ormas pemuda, dan yang cukup berkesan, saya pernah hampir mau ditembak oleh organisasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat bertugas di Aceh,” tutup Raden.***