BI Selenggarakan Kegiatan Bertajuk Memaknai Ulang Peran dan Kepemimpinan Perempuan

14
Peran Perempuan
Pagelaran virtual bertajuk “Memaknai Ulang Peran dan Kepemimpinan Perempuan" diselenggarakan Bank Indonesia, Jumat (1/4). (FOTO: DEPARTEMEN KOMUNIKASI BI).

EKBISBANTEN.COM – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destri Damayanti pada pagelaran virtual bertajuk “Memaknai Ulang Peran dan Kepemimpinan Perempuan” yang diselenggarakan Bank Indonesia, Jumat (1/4) mengungkapkan saat ini statistik telah menunjukkan perkembangan positif bagi gender perempuan baik dari segi angka harapan hidup, indeks pemberdayaan gender, bahkan sampai kepada angka investasi ritel.

“Selain itu survei membuktikan bahwa proporsi perempuan di posisi strategis perusahaan terus bertumbuh, serta terdapat proyeksi tambahan PDB dunia sebesar USD 28 triliun apabila terdapat kesetaraan gender,” katanya.

Destri menjelaskan, hal positif tersebut kian mendefinisikan peran perempuan sebagai natural born leader yang memegang keseimbangan di dunia profesional hingga rumah tangga. “Adapun tiga hal yang perlu dipedomani kaum perempuan dalam menjalankan kepemimpinan yaitu cintai apa yang dipimpin, bekerja sama dengan banyak mendengar dan jadilah diri sendiri,” tuturnya.

Sementara itu, dalam sesi “Tutur Perempuan” yang dibawakan oleh Ketua Komite Tetap Bidang Pendidikan IWAPI & Co-Chair G20 Empower, Rina Prihatiningsih dan Dokter Spesialis Anak, Pendiri wecare.id dan Tentang Anak, Mesty Ariotedjo, mengemuka bahwa peran Presidensi G20 melalui inisiatif aliansi G20 Empower, telah mendorong keterwakilan perempuan di posisi kepemimpinan di sektor swasta dan publik, guna mewujudkan keberagaman, inklusivitas, kekuatan ketahanan ekonomi yang berkelanjutan.

“Terdapat lima indikator G20 Empower yaitu peran seimbang lelaki perempuan, prosentase perempuan yang dipromosikan dalam posisi tertentu, total kesenjangan renumerasi, prosentase perempuan dalam jajaran Direksi, dan prosentase terkait pekerjaan teknis,” ujar Rina.

Ia menuturkan, dengan kesetaraan, kebijakan yang diambil akan berpihak pada para perempuan sehingga perempuan semakin terlindungi. Selain itu, lanjut Rina, kami mengajak kaum perempuan untuk memaknai ulang kepemimpinannya, menetapkan arah definitif yang sebenarnya diinginkan bagi dirinya sendiri, tanpa terpengaruh oleh stigma masyarakat maupun tuntutan keluarga yang memiliki pandangan konservatif.

“Karena seyogyanya siapapun dapat menjadi pemimpin, baik pemimpin diri sendiri dan keluarga, selama dilakukan dengan langkah yang nyata. Langkah nyata tersebut perlu didukung dengan growth mindset dikombinasikan dengan usaha sebaik-baiknya yang makin dipermudah di era digitalisasi ini,” jelasnya.

“Kini dengan dukungan digital, perempuan berkesempatan lebih untuk berkarya dan didorong untuk memulai usaha sembari menjalankan peran dalam rumah tangga,” sambung Mesty.***