BI: Industri Kimia Jadi Penggerak Pemulihan Perekonomian Banten

38
Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten Erwin Soeriadimadia (kedua dari pojok kanan atas) saat foto bersama dengan narasumber Banten Economic Forum (BEF) Seri 2 tahun 2021 secara virtual, Jumat (16/7). (Foto: Istimewa)

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten Erwin Soeriadimadia mengatakan, industri pengolahan non migas punya andil sangat besar sebagai penggerak sekaligus mendorong pemulihan perekonomian nasionan termasuk di Provisni Banten.

“Industri pengolahan non migas memainkan peranan penting dalam perekonomian dan menjadi backbone pertumbuhan ekonomi nasional, dengan share 17,9 persen diikuti oleh sektor sektor pertanian, kehutanan, dan lerikanan dengan share 13,2 persen dan sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 13,1 persen,” kata Erwin saat menyampaikan keynote speech pada kegiatan diskusi Banten Economic Forum (BEF) Seri 2 tahun 2021 secara virtual dengan tema “Membangun Hilirisasi Industri kimia di Provinsi Banten Untuk Mendorong Ekonomi Banten dan Nasional”, Jumat (16/7).

BEF merupakan agenda dikusi berkala yang diselenggarakan KPw BI Provinsi Banten untuk membahas berbagai permasalahan ekonomi Banten dan merumuskan upaya serta strategi bersama antar kementerian/lembaga/dinas/institusi serta berbagai pihak terkait di Banten untuk mengatasi permasalahan tersebut.

BACA JUGA: Peluang Investasi di Banten Masih Besar, Penggunaan Lahan Kawasan Industri Masih Minim

BEF Seri 2 menghadirkan empat narasumber kompeten dari kementerian/lembaga/institusi yang relevan, yaitu: Fridy Juwono, Direktur Indutri Kimia Hulu, Kementerian Perindustrian RI, Aris Mulya Azof, SVP Downstream Gas, Power, & NRE Business Development & Portfolio, PT Pertamina (persero), Tbk, Retno Murwani, Pemimpin Divisi Bisnis Komersial 1, PT Bank Negara Indonesia (persero), Tbk, dan Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS).

Pada kegiatan BEF Seri 2 ini, pembahasan difokuskan pada upaya mengoptimalkan potensi hilirisasi subsektor petrokimia di Banten dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.

“Pada era pandemi yang masih berlangsung ini, di tengah penurunan pada hampir seuruh sektor pendukung perekonomian daerah dan nasional industri kimia, farmasi dan obat tradisional mampu tumbuh positif sebesar 11,46 persen atau yang paling tinggi diantara sub sektor industri lainnya,” katanya.

“Demikian halnya di Banten, dimana perekonomiannya juga sangat dipengaruhi oleh kinerja industri pengolahan yang menyumbang sebesar 33,45 persen terhadap total PDRB Banten pada 2020, kontribusi industri kimia dan farmasi dalam pemulihan ekonomi masih sangat signifikan,” sambung Erwin.

BACA JUGA :Kemenperin Minta Pemda di Banten Ramah Kepada Investor

Direktur Indutri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian RI Fridy Juwono mengatakan, Provinsi Banten mempunyai peran siginfikan dan merupakan salah satu klaster pengembangan industri petrokimia nasional.

“Hal ini dikarenakan telah memiliki angka populasi industri kimia yang sangat besar dan diproyeksikan akan terus bertambah jumlahnya karena terdapat beberapa investasi industri petrokimia,” kata Fridy Juwono.

Tantangan yang harus dihadapi antara lain terkait dengan pengembangan infrastruktur jalan di sekitar klaster industri dan kesiapan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja di bidang petrokimia terutama tingkat menengah lulusan sekolah vokasi politeknik petrokimia.

“Diharapkan ke depannya, jika investasi di sektor petrokimia terealisasi maka Indonesia menjadi negara Petrokimia nomor satu di ASEAN dengan total kapasitas Olefin Indonesia sebesar 7.730,2 KTA dan Poliolefin sebesar 6.836 KTA,” katanya.

BACA JUGA : Akademisi: Perpanjangan PPKM Berpotensi Tambah Pengangguran dan Warga Miskin

Sementara, SVP Downstream Gas, Power, & NRE Business Development & Portfolio, PT Pertamina Aris Mulya Azof menyampaikan bahwa ke depan Pertamina melihat potensi petrokimia menjadi sektor penting yang akan dikembangkan.

“Terkait sektor ini, Pertamina merencanakan akan mengembangkan 4 proyek di sektor petrokimia tersebut, hal ini juga sejalan dengan perkembangan permintaan Coal dan Oil yang diperkirakan akan melambat pada tahun 2035, sebaliknya di sisi lain permintaan terhadap gas dan RES akan meningkat secara berkelanjutan setelah tahun 2040,” katanya.

Dari sisi hilir, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS) Fajar Budiono, bahwa Banten dapat meningkatkan produk hilirisasi berupa finished goods plastic yang dapat dipadukan dengan pengembangan sektor pendukung seperti kuliner dan pariwisata yang menjadi salah satu konsumen utama produk hilir petrokimia, khususnya produk kemasan.

“Di samping itu dan masih ada ruang yang cukup luas untuk pengembangan methanol sebagai bahan produksi ethylene dan propylene,” katanya.

Dari segi dukungan pembiayaan, Pemimpin Divisi Bisnis Komersial 1, PT Bank Negara Indonesia (BNI) Retno Murwani dalam pemaparannya menyatakan bahwa industri kimia merupakan salah satu sektor prioritas pembiayaan perbankan, khususnya Bank Negara Indonesia.

BACA JUGA : Seruan Walikota Serang: Salat Idul Adha Ditiadakan, Pembagian Daging Kurban Diantar ke Rumah

“Di Banten pertumbuhan kredit industri kimia di Provinsi Banten tercatat tumbuh 30,69 persen (yoy) pada tahun 2020, lebih tinggi dari pertumbuhan kredit industri kimia nasional tahun 2020 sebesar 20,81 persen (yoy),” katanya.

Demikian juga kata dia dengan kinerja NPL ondustri kimia di Banten sebesar 0,85 persen lebih baik dari rata-rata NPL industri kimia nasional pada tahun 2020.

“Hal ini menunjukkan bahwa kualitas kredit industri kimia di Provinsi Banten sangat baik bahkan apabila dibandingkan dengan kualitas kredit industri kimia nasional,” katanya.

Kebijakan makroprudesial yang ditempuh Bank Indonesia diapresiasi karena berhasil memperlonggar likuiditas perbankan, sehingga dapat tetap menyalurkan kredit ke sektor prioritas termasuk ke industri kimia.

“Prospek industri petrokimia ke depannya menjadi sangat menarik, terlebih Banten menjadi provinsi dengan klaster sektor petrokimia dan kawasan industri yang besar,” kata Erwin.

Masih terdapat peluang untuk lebih mengoptimalkan kinerja kimia khususnya di hilir. Diversifikasi produk dan koordinasi yang bersifat multidimensi antar stakeholder menjadi penting untuk memberikan kepastian bahan baku dan memberikan added value bagi industri.

Terlebih Pemerintah melalui Kemenperin kata Erwin berkomitmen untuk mendukung pengembangan industri salah satunya melalui program substitusi impor, fasilitas insentif fiskal, dan penurunan harga gas bumi.

“Walaupun demikian, perlu diperhatikan lebih lanjut mengenai pengembangan industri hijau untuk mendukung sustainable economy dan mengurangi excess negatif dari sektor manufaktur,” katanya.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah serta kementerian/lembaga terkait khususnya untuk mendorong akselerasi pertumbuhan industri petrokimia sebagai backbone laju ekonomi Banten maupun nasional.

“Dengan demikian, ke depannya pengembangan industri hilir di Provinsi Banten diharapkan akan dapat terwujud dan mendorong perekonomian Banten maupun Nasional,” pungkasnya. (ismet)