BI Banten Klaim Potensi Pasar Ekonomi Syariah Global Mencapai 3,2 Triliun Dolar As Tahun 2024

32

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja mengatakan, berdasarkan Laporan Global Islamic Economy 2019/2020, potensi pasar global cukup besar. Pengeluaran muslim global pada 2018 sebesar 2,2 triliun Dolar AS diperkirakan mencapai 3,2 triliun Dolar AS pada 2024 dengan pertumbuhan rata-rata 5,2 persen.

“Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, masih menempati peringkat 5 dalam global islamic economy 2019/2020 meningkat dari tahun sebelumnya yang berada di peringkat 10,” kata Erwin dalam rangkaian acara Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa 2020 secara virtual, Sabtu (10/10).

Sebagai informasi, Fesyar Jawa 2020 yang mengangkat tema besar “Akselerasi Peran Ekonomi Syariah Dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Regional”, pada hari Sabtu, 10 Oktober 2020 mengadakan talkshow dengan tema “Gaya Hidup Sehat Alami dan Halal”.

Hadir pula dalam acar tersebut anggota Komisi XI DPR RI Indah Kurnia, serta narasumber, DR. Gia Pratama Putra, Kepala Instalasi Paliatif RSU Dr. Seotomo, Kushandari, Selebgram Kelinci Tertidur, dan artis Zee Zee Shahab.

Erwin berharap trend gaya hidup sehat dan halal, dan universalitas halal untuk meningkatkan kualitas hidup, dapat menjadi pijakan untuk percepatan terwujudnya integrated halal ecosystem.

“Masyarakat termasuk generasi milenial diharapakan dapat terlibat untuk mewujudkan Indonesia sebagai main player di industri halal global,” kata Erwin.

Di samping itu, dalam welcoming remarks tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, menyampaikan 4 (empat) prinsip yang dapat menjadi guidance untuk menerapkan healty lifestyle. Prinsip pertama adalah, konsumsi syariah, bahwa konsumsi bagi umat muslim tidak hanya bertujuan mendapatkan kepuasan melainkan berfungsi “ibadah” dalam rangka untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

Prinsip kedua adalah, prinsip kuantitas yang artinya dalam konsumsi sesuatu sudah seharusnya kita menghindari sifat mubazir karena sifat tersebut jauh dari nilai-nilai syariah dan dapat merusak tatanan kehidupan umat muslim. Prinsip ketiga adalah, prinsip prioritas bahwa dalam dalam konsumsi harus ada hal-hal yang menjadi prioritas, maka perlu adanya filter untuk memilih mana yang harus didahulukan dan lebih penting untuk dipenuhi.

Prinsip keempat adalah, prinsip moralitas bahwa dalam konsumsi seorang muslim juga harus sesuai dengan adab dan etika yang telah disunahkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Besarnya pasar global produk halal merupakan peluang bagi Indonesia untuk menjadikan industri halal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Indonesia harus terus bekerja keras untuk menjadi top ranked di dunia ekonomi islam, tidak hanya menjadi negara dengan pengeluaran terbesar tetapi juga sebagai main player bahkan menjadi yang terbesar di industri halal.

“Kemampuan Indonesia untuk mengembangkan produsen produk halal akan memberi dua dampak, yaitu pada penghematan devisa dan peningkatan peran Usaha Kecil dan Menengah,” papar Erwin.

Sementara itu, Indah Kurnia dari Komisi XI DPR RI, yang juga hadir dalam talkshow virtual melihat ruang pengembangan ekonomi dan keuangan syariah masih terbuka luas sehingga perlu terus dibangun agar ekonomi syariah dapat lebih berperan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Fesyar se-Jawa dapat memberikan inspirasi dan motivasi untuk mewujudkan hal tersebut,” pungkas Indah. (*/Raden)