BI Banten Dorong Pengembangan Tenun Khas Lebak

9
Foto: Istimewa

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten sukses menggelar pelatihan pembuatan tenun menggunakan teknik ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) bagi para pelaku UMKM dan santri di Pondok Pesantren Al-Washliyah Kabupaten Lebak, Senin (22/3) hingga Selasa (20/4).

Pelatihan ini digelar dalam upaya mendorong pengembangan UMKM di era digital sekaligus pembentukan local economic development (LED).

Dalam keterangan tertulis yang diterima Ekbisbanten.com, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja mengungkapkan, pandemi mengajarkan tiga hal penting bagi para pelaku UMKM atau masyarakat. Pertama harus kuat bertahan, kedua harus optimis bahwa pandemi akan berakhir sehingga perlu mencari inovasi dan kreatif, ketiga menghadapi peradaban baru dengan kehadiran revolusi digital.

“Guna bertahan dan membangkitkan optimisme itulah KPw BI Banten hadir memperkuat UMKM melalui pelatihan tenun, sekaligus kemandirian pesantren mengingat pelatihan ini dilakukan bersama santri pesantren yg mempunyai visi yang sama dan berkeinginan kuat untuk maju,” kata Erwin.

“Jadi pesantren tidak hanya pandai mengaji tapi juga punya kelebihan yaitu mampu dalam berusaha, harus mewujudkan ngaji fiqih, ngaji sugih” tambah Erwin.

Masih kata Erwin, sejalan dengan upaya mendorong pengembangan UMKM di era digital ini, Bank Indonesia Banten melaksanakan berbagai program peningkatan kapasitas UMKM antara lain melaksanakan kurasi UMKM potensial, pelatihan on boarding bekerjasama dengan E-commerce, showcase secara online, business matching dengan calon buyer serta pelatihan pembentukan local economic development (LED), yang salah satunya dengan menginisiasi pengembangan tenun khas Lebak bertempat menggunakan (ATBM).

“Pelatihan ini juga dimaksudkan sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian pesantren, yang juga menjadi salah satu program kerja Bank Indonesia,” jelas Erwin.

Hasil dari pelatihan tenun ini tambah Erwin akan memperkaya khazanah produk kerajinan tenun di Banten, yang selama ini dikenal dengan produk tenun gedog Baduy yang merupakan produk kain tenun heritage yang juga akan tetap dipertahankan dan dijaga kelestariannya sebagai salah satu warisan budaya Bangsa Indonesia.

“Diharapkan, produk tenun khas Lebak yang dikembangkan dengan tehnik ATBM tersebut akan melengkapi produk tenun di Banten, dan pada gilirannya akan mendorong peningkatan kesejahteraan perajin tenun maupun masyarakat Banten secara luas,” katanya..

Pelatihan tenun khas Lebak dilaksanakan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Banten bekerjasama dengan Tim Pelatih yang dipimpin oleh Wignyo Rahadi, desainer nasional dan staf ahli Dekranas.

Materi utama pelatihan tenun selama 26 hari tersebut meliputi pelatihan mewarnai benang, pelatihan menggunakan alat mehani, dan pelatihan menggunakan ATBM, hingga praktek membuat dan mengenal motif tenun baru khas Lebak, Banten.

Sementara itu, Ketua Bidang Wirausaha Baru Dekranas, Endang Budi Karya menyampaikan kegiatan pelatihan tenun banten ini sejalan dengan upaya dan misi Dekranas yaitu menyiapkan regenerasi perajin yang unggul dan berdaya saing dan juga sejalan dengan program pelatihan kerajinan kriya yang dimiliki oleh Dekranas.

“Dekranas juga mendukung kegiatan pelatihan ini dan berharap dapat menumbuh kembangkan wirausaha baru di daerah, termasuk Provinsi Banten,” katanya.

Endang Budi Karya juga berharap agar santri terus belajar dan mengembangkan skill agar terasah dan memiliki semangat juang mengembangkan tenun di Kabupaten Lebak.

“Dengan telah dilaksanakan pelatihan ini diharapkan dapat terbentuk kelompok Tenun Banten yang menjadi andalan Local Economic Development (LED) Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten, serta penggunaan ATBM dan ilmu teknis baru dapat meningkatkan kualitas produk tenun banten,” katanya.

Tenun ATBM dengan motif khas Lebak, Banten diharapkan dapat memperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas terkait seni kreatif kain di Provinsi Banten yang berkembang.

“Semoga melalui pelaksanaan pengembangan tenun ini dapat menjadi salah satu sumber ekonomi kreatif baru di Kabupaten Lebak dan menjadi momentum percepatan pemulihan ekonomi di Provinsi Banten,” pungkasnya. (*/ismet)