SERANG, EKBISBANTEN.COM – Kerajinan tangan berupa miniatur ikon budaya khas Banten kini mulai menembus pasar internasional.
Tidak hanya menjadi produk kerajinan biasa, karya seni ini juga menjadi media promosi kekayaan budaya lokal dan sumber pemberdayaan ekonomi desa.
Salah satu pelaku usaha yang konsisten mengangkat budaya Banten melalui kerajinan adalah Suherman, pengrajin asal Desa Kadikaran, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang.
Ia memproduksi miniatur berbagai ikon Banten, seperti Menara Banten dan Leuit Baduy, dengan pendekatan ramah lingkungan.
“Kami ingin mengenalkan budaya Banten lebih luas lagi. Produk ini bukan sekadar pajangan, tapi juga membawa pesan pelestarian budaya dan lingkungan,” ujar Suherman saat ditemui Ekbisbanten.com, Rabu (15/7).
Dalam proses produksinya, Suherman mengutamakan penggunaan bahan ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah industri.
“Kami menggunakan limbah kayu dari palet, sisa sparepart pabrik, dan bahan bekas lainnya. Ini bukan hanya soal efisiensi, tapi juga bagian dari komitmen terhadap keberlanjutan,” jelasnya.
Harga kerajinan yang diproduksinya bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kerumitan dan detail miniatur. Miniatur Menara Banten dan Leuit Baduy menjadi produk favorit yang paling banyak diminati konsumen.
Awalnya, Suherman memasarkan produknya melalui berbagai pameran daerah dan nasional. Seiring waktu, eksposur terhadap kerajinan tersebut meningkat dan menarik minat pasar luar negeri.
“Kami sudah ekspor ke Timor Leste, Arab Saudi, Qatar, dan Oman. Dua tahun lalu, kami juga ikut Trans Expo internasional dan berhasil menjalin kerja sama dengan beberapa buyer luar negeri,” paparnya.
Suherman menegaskan, pengembangan kerajinan ini tak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa.
“Ini bagian dari pemberdayaan masyarakat. Kami libatkan pemuda dan warga yang membutuhkan pekerjaan, agar bisa tumbuh bersama melalui karya budaya,” pungkasnya.*