Akun Medsos Ungkap 7 Skandal di SMAN 4 Kota Serang, dari Pelecehan hingga Intoleransi

- Senin, 7 Juli 2025

| 12:44 WIB

(Dok: @savesmanfourkotser)

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Sebuah akun Instagram bernama @savesmanfourkotser menjadi sorotan publik usai membagikan unggahan berisi dugaan tujuh skandal serius yang terjadi di SMA Negeri 4 Kota Serang, Banten.

Unggahan itu menjadi viral di kalangan siswa, alumni, hingga masyarakat karena menyentuh isu-isu sensitif seperti pelecehan seksual, intoleransi, hingga dugaan pungutan liar.

Akun tersebut mengklaim bahwa sejumlah pelanggaran terjadi secara sistematis dan berlangsung selama bertahun-tahun, tetapi tidak pernah ditindaklanjuti secara serius oleh pihak sekolah.

Berikut tujuh isu yang disebutkan dalam unggahan tersebut:

  1. Dugaan Pelecehan Seksual oleh Oknum Guru

Seorang guru diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah siswa lintas angkatan, mulai dari alumni hingga siswa aktif kelas 10.

Meski sudah ada laporan, pihak sekolah disebut tidak mengambil tindakan tegas. Bahkan, para siswa yang mencoba menyampaikan keluhan mengaku dibungkam dengan kalimat seperti, “Sudah ya, dimaafkan saja, jangan bilang orang tua.”

  1. Kegiatan Ekstrakurikuler Tidak Didanai

Sebagian besar kegiatan ekstrakurikuler di sekolah itu disebut berjalan tanpa dukungan dana yang memadai.

Permintaan dana dari siswa untuk menunjang kegiatan disebut dibalas dengan pernyataan bernada merendahkan, seperti “Kalau miskin, jangan banyak gaya.”

Kondisi ini membuat siswa merasa kegiatan hanya dijadikan alat pencitraan sekolah, tanpa dukungan nyata dari manajemen.

  1. Guru Honorer Tak Diusulkan Jadi ASN

Sejumlah guru honorer yang telah mengajar sejak 2021 menyatakan tidak pernah didaftarkan sebagai calon ASN atau PPPK karena data mereka tidak dimasukkan oleh pihak sekolah.

Mereka mengaku merasa dimanfaatkan dan kemudian ditinggalkan tanpa kejelasan status atau penghargaan atas pengabdiannya.

  1. Dugaan Pungutan Liar dan Bisnis Internal Sekolah

Siswa disebut diwajibkan membeli Lembar Kerja Siswa (LKS), seragam, dan buku Ramadan dengan harga tinggi, namun tanpa bukti transaksi atau kwitansi resmi.

Harga seragam dan LKS disebut mencapai jutaan rupiah, sementara buku Ramadan dijual dengan harga tiga kali lipat dari harga pasaran.

Tidak adanya transparansi dana dan laporan keuangan yang dibuka kepada publik memicu kecurigaan praktik pungli dan bisnis internal sekolah.

  1. Tekanan terhadap Siswa yang Menyuarakan Kritik

Siswa yang aktif di OSIS atau Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK) disebut kerap mendapat tekanan saat mencoba menyuarakan permasalahan di sekolah.

Bahkan siswa yang hanya membagikan ulang konten kritik di media sosial dikabarkan mendapat panggilan dari pihak sekolah dan diintimidasi.

Budaya diam dan ketakutan ini disebut telah melekat di antara siswa, guru, hingga alumni.

  1. Dugaan Intoleransi Beragama

Akun tersebut juga mengungkap bahwa unggahan ucapan peringatan Kenaikan Isa Almasih yang dibuat oleh OSIS diminta dihapus oleh pihak sekolah.

Tindakan itu dinilai mencerminkan sikap intoleran terhadap agama non-mayoritas dan bertentangan dengan nilai keberagaman yang seharusnya dijunjung tinggi di lingkungan pendidikan.

  1. Fasilitas Kelas Tidak Layak

Kondisi ruang kelas disebut tidak mendukung proses belajar mengajar.
Dalam satu kelas disebut terdapat lebih dari 50 siswa, tanpa ventilasi atau kipas angin yang memadai.

Ruang yang panas dan pengap membuat siswa tidak nyaman belajar. Namun ketika disuarakan, keluhan tersebut justru dibalas dengan tekanan.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak SMA Negeri 4 Kota Serang belum memberikan keterangan resmi.

Redaksi Ekbisbanten.com masih berupaya mengonfirmasi kepala sekolah untuk meminta klarifikasi atas tuduhan yang beredar.*

Editor: Rizal Fauzi

Bagikan Artikel

Terpopuler_______

Scroll to Top