Banten Ternyata Punya Beras Khusus Sultan

13

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Makanan dengan nilai gizi dan ekonomi tinggi identik hanya dikonsumsi bagi kalangan raja hingga konglomerat yang hanya bisa menjangkaunya.

Seperti di Provinsi Banten yang  memiliki makanan dari jenis beras, sebut saja beras kewal yang konon katanya hanya dikonsumsi oleh kalangan raja saja, khususnya Sultan Banten.

Seperti yang diceritakan salah seorang petani beras kewal asal Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang ini, Yuliani mengatakan, dulunya beras kewal ini hanya dikonsumsi oleh keluarga dari kalangan Sultan Banten.

Selain nilai gizinya yang cukup tinggi serta memiliki aromanya yang harum, menurutnya, beras kemal dikenal sebagai makanan yang menyehatkan.

“Beras kewal ini asli merupakan hasil petani Banten, tidak ada dari daerah lain,” kata Yuli saat menjadi narasumber ‘Diskusi Kamisan dengan tema mendorong Banten menjadi lumbung beras nasional’ yang digelar  Pokja Wartawan harian dan elektronik Provinsi Banten, di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (Kp3B),Kamis (9/9/2021).

Turut hadir sebagai narasumber, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Agus Tauchid, serta perwakilan dari Dinas Pertanian Kabupaten Serang dan PT BUMD Agrobisnis Banten Mandiri (ABM).

Sambung Yuli, berbeda dengan harga-harga beras lain, nilai jual beras kewal ini tergolong cukup tinggi, berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu untuk setip kilognya, sebuah harga yang memiliki nilai jual cukup jauh dibanding beras lainnya yang biasa ditemukan dipasar dan dikonsumsi masyarakat kebanyakan selama ini.

Berkaca dari hal tersebut itulah,  dirinya memutuskan untuk terjun langsung sebagai petani beras kewal, dimuali dengan bercocok tanam diatas lahan seluas satu hektar kemudian merambah menjadi luas 12 hektar, Yuli sukses menjadi petani beras kewal.

Disisi lain, dirinya ingin melestarikan beras kemal sebagai makanan khas Provinsi Banten.

“Karena beras kewal ini memang menyehatkan, sedangkan kesehatan bukan hanya orang kaya saja. Makanya saya ingin melestarikannya,” katanya.

Masih kaya Yuli, sampai saat ini, beras kewal masih jarang ditemukan dipasaran, bahkan terbilang sulit. Kebanyakan hasil pertanian beras kewal hanya dikondumsi oleh petaninya sendiri atau dibagi-bagikan kepada keluarganya saja, tidak sampai dijual dipasaran, melihat harganya yang cukup tinggi.

Meski begitu, pihaknya optimis harga beras kewal asli Provinsi Banten ini bisa terus ditekan dipasaran, asal bisa didukung oleh teknologi pengolahannya hingga penyediaan sumber daya alam berupa pengairan sawahnya.

“Karena cara penanamannya juga identik sama dengan cara bertani beras yang lain, asal didukung teknologi dan alam, khususnya soal pengairannya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, Agus Tauchid mengatakan, untuk saat ini, keberadaan beras kewal hanya berkisar satu sampai dua persen dari total keselutuhan lahan sawah yang ada di Banten.(Red)