Akibat Panen Raya, NTP Banten Turun 1,22 Persen

14
Foto/Dok.Ekbisbanten.com/Ismatullah

SERANG, EKBISBANTEN.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada bulan Maret 2021 mengalami penurunan sebesar 1,22 persen atau anjlok dari 100,92 poin pada bulan Februari menjadi 99,69 poin.

Kepala BPS Banten Adhi Wiriana mengatakan, penurunan ini disebabkan karena pada bulan Maret lalu Banten sedang mengalami panen raya. Sehingga pasokan pertanian cukup banyak.

“Hal ini bisa dilihat dari angka penurunan di tanaman pangan yang turun paling tinggi sebesar 1,94 persen. Sementara itu tanaman holtikultura naik 0,43 persen tanaman perkebunan rakyat turun 0,66 persen peternakan naik 0,41 persen dan perikanan naik 0,42 persen,” papar Adhi dalam siaran rilis resmi berita statistik melalui chanel youtube BPS Banten, Kamis (1/4).

Lebih lanjut, Adhi menjelaskan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) juga mengalami penurunan sebesar 1,12 persen, angka ini diartikan ketika petani membeli pupuk, bibit, peptisida dan lain sebagainya dibandingkan dengan besaran pendapatan yang diperoleh petani.

“Hal serupa juga terjadi pada tanaman pangan yang mengalami penurunan paling tinggi sebesar 1,89 persen, karena mayoritas masyarakat di Banten banyak bekerjanya di sektor pertanian tanaman pangan,” jelas Adhi.

Kendati demikian Provinsi Banten menempati urutan pertama dengan NTP paling tinggi dibandingkan provinsi lain se pulau Jawa.

“Meskipun angkanya masih dibawah NTP nasional sebesar 103,29 poin,” imbuhnya.

Hal tersebut kata Adhi, berdampak terhadap harga gabah kering giling (GKG) di tingkat petani yang turun 6,91 persen atau dari harga Rp4.714 menjadi Rp4.388. Sementara harga gabah kering panen (GKP) juga turun 10,18 persen dari Rp4.275 menjadi Rp3.840.

“Ini dikarekanan suplai permintaan gabah yang meningkat,” ujar Adhi.

Sementara itu, lanjut Adhi, upah buruh di Banten mengalami peningkatan dari Rp66.279 pada bulan Februari menjadi Rl66.359 atau naik 0,12 persen.

“Hal ini dipengaruhi kenaikan inflasi di Provinsi Banten sebesar 0,5 persen, dan berimbas kepada upah buruh,” tutup Adhi. (Raden)